The Light That Guards the Valley - Episode 4: The Rejected

Menghitung...

SEASON 1 - EPISODE 4

THE REJECTED

"Ke mana orang yang terbakar pergi? Ke mana logika lari saat dia hancur?"

...

BAB 1: NEKROSIS LOGIKA

Pukul 07.00 pagi.

Matahari Jakarta sudah naik, menusuk masuk lewat jendela apartemen Martin tanpa permisi. Cahayanya silau, panas, dan tidak sopan.

Martin masih tertidur di sofa. Dia berguling sedikit, menutupi wajahnya dengan bantal goose feather. Dengkurannya masih stabil. Orang ini... dia benar-benar kebal. Bukan karena dia punya kekuatan super, tapi karena dia terlalu dangkal. Air tidak bisa menenggelamkan gabus yang mengapung. Dan Martin adalah gabus paling narsistik di samudra ini.

Aku berdiri di dekat pintu keluar. Jaket sudah terpasang, helm di tangan. Aku tidak membangunkannya. Martin adalah cadangan terakhir. Jika aku mati atau gila hari ini, harus ada satu orang bodoh yang tersisa untuk menceritakan kisah ini—walaupun versinya pasti salah.

Aku mengambil secarik kertas post-it kuning dari meja kerja Martin. Menulis pesan singkat dengan spidol hitam. Tanganku gemetar, membuat tulisannya seperti cakar ayam.

“Gue cari Alena. Jangan keluar. Kunci pintu. Jangan percaya siapa-siapa.”

Aku menempelkannya di jidat patung abstrak kesayangan Martin.

Aku keluar. Pintu apartemen terkunci otomatis dengan bunyi klik digital. Bunyi yang memisahkan antara benteng pertahanan dan medan perang.

Jalan Raya Lenteng Agung. Pukul 08.15.

Lenteng Agung di pagi hari adalah simulasi neraka yang akurat. Macet, panas, berdebu, dan penuh dengan pengendara motor yang sepertinya punya nyawa cadangan.

Aku menyelip di antara celah mobil, memacu motor matic-ku secepat mungkin menuju Depok. Tujuanku adalah rumah kontrakan Alena di daerah Kukusan.

Sambil menyetir, aku mencoba meneleponnya lagi. Lewat Whatsapp, hanya Memanggil. Aku mencoba lewat telepon selular ke nomornya. Ponsel kuselipkan di dalam helm yang sempit, menekan telingaku sampai sakit.

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif...”

Aku mematikan sambungan. Mencoba lagi.

“Nomor yang Anda tuju...”

“Angkat, Al! Angkat, bangsat!” teriakku. Suaraku teredam busa helm, kalah oleh deru knalpot bajaj di sebelahku.

Keringat dingin mengucur di punggung. Tadi malam, di rumah Rian, aku melihat tanaman yang overdosis kehidupan. Hijau, segar, bercahaya. Itu tanda penerimaan. Energi Rusa itu mengalir lancar.

Tapi Alena? Pesan terakhirnya adalah tentang rasa sakit. Tentang “terbakar”. Alena adalah skeptis. Dia adalah dinding beton bagi ombak. Dia menolak cahaya itu. Dan hukum fisika sederhana berlaku: Jika energi besar menabrak dinding yang keras, yang terjadi bukan aliran. Yang terjadi adalah ledakan.

Kukusan, Depok. Pukul 08.45.

Aku sampai di gang rumah Alena. Biasanya jam segini gang ini ramai. Mahasiswa berangkat kuliah, tukang sayur lewat, ibu-ibu ngerumpi. Tapi pagi ini, gang itu mati.

Sepi. Senyap.

Aku memelankan motor. Suara mesin motorku terdengar terlalu bising di keheningan yang aneh ini. Aku berhenti di depan pagar hitam kontrakan Alena.

Pemandangan di halaman depan membuatku lupa cara bernapas.

Tanaman bugenvil yang biasanya rimbun di pagar... habis. Bukan layu. Hangus.

Ranting-rantingnya hitam legam, kerontang, seperti baru saja disambar petir tapi tanpa api. Daun-daunnya rontok di tanah, menjadi abu abu-abu yang beterbangan ditiup angin. Rumput di halaman menguning mati dalam pola lingkaran sempurna yang menyebar dari pintu depan.

Seolah-olah ada gelombang radiasi yang meledak dari dalam rumah itu.

“Alena!”

Aku melompat turun. Tidak melepas helm. Gerbang tidak dikunci. Engselnya berdecit nyaring saat kudorong.

Aku lari ke pintu depan. Pintunya tertutup rapat. Kaca jendela depan retak seribu. Bukan pecah berantakan, tapi retak dari dalam, seolah ada tekanan udara yang mencoba keluar.

Aku menggedor pintu. Kayunya terasa panas di telapak tanganku yang terbungkus sarung tangan.

“Alena! Buka! Ini Okto!”

Hening. Tidak ada jawaban. Tidak ada suara langkah kaki. Hanya ada bau itu. Bau ozon. Bau kabel terbakar. Dan bau amis darah yang samar.

Aku mencoba mengintip lewat celah jendela yang retak. Gelap. Tirai tertutup. Tapi aku bisa melihat bayangan perabotan yang berantakan. Kursi terbalik. Lampu gantung miring.

Aku mundur, bersiap mendobrak. Tapi sebelum badanku menabrak pintu, mataku menangkap gerakan di rumah sebelah.

Di rumah tetangga sebelah kanan. Tirai jendelanya tersibak sedikit. Hanya satu inchi. Ada mata yang mengintip. Mata seorang perempuan tua.

Mata itu terbelalak. Penuh teror. Dia menatapku, lalu menatap rumah Alena dengan ketakutan yang murni.

“Bu!” panggilku, menunjuk rumah Alena. “Teman saya ada?!”

Begitu aku bersuara, tirai itu langsung tertutup rapat. Srek! Lalu terdengar suara kunci pintu diputar dua kali dari dalam.

Dia tidak mau terlibat. Dia melihat sesuatu tadi malam. Sesuatu yang membuatnya memilih untuk mengurung diri daripada menolong.

“BU! HALLO!” teriakku lagi.

Tidak ada jawaban. Rumah itu membisu. Rumah di sebelahnya juga. Semua pintu tertutup rapat. Semua jendela buta. Satu gang ini ketakutan. Mereka tahu ada monster di nomor 45, dan mereka memilih pura-pura mati.

Aku kembali ke pintu Alena. Menendangnya sekuat tenaga. BRAK! Pintunya kokoh. Kayu jati tua. Bahuku nyeri.

Aku mencoba lagi. BRAK! Sia-sia.

Aku menempelkan telingaku ke daun pintu yang panas itu. Berharap mendengar napas. Atau rintihan. Nihil. Kosong.

Alena tidak di sini. Atau mungkin... yang tersisa dari Alena sudah bukan sesuatu yang bisa menjawab.

Aku merosot duduk di teras yang penuh abu daun kering. Napasku memburu. Dia hilang. Nomornya mati. Rumahnya jadi zona bencana. Tetangganya bungkam seribu bahasa.

Aku sendirian di tengah gang mati ini. Tanpa petunjuk. Tanpa arah.

Tanganku yang diperban berdenyut sakit. Nyut. Dia mengejekku. Cahaya ini tahu di mana Alena. Tapi dia tidak memberitahuku. Dia hanya memberikan rasa sakit sebagai kompas yang rusak.

“Bangsat...” umpatku, memukul lantai keramik.

Ke mana orang yang terbakar pergi? Ke mana logika lari saat dia hancur?

Aku berdiri. Menatap jalanan kosong. Aku harus mencarinya. Menyisir setiap rumah sakit di Depok kalau perlu. Karena kalau Elisabeth yang menemukannya lebih dulu... Alena tidak akan mati. Dia akan dijadikan sesuatu yang jauh lebih buruk.



BAB 2: UNDANGAN DARI FREKUENSI LAIN

Aku masih berdiri di teras rumah Alena yang hangus. Napas menderu. Keringat dingin menetes dari pelipis, jatuh ke ubin yang tertutup abu hitam.

Di sekelilingku, rumah-rumah tetangga membisu. Tirai-tirai tertutup rapat. Lampu teras dimatikan serentak. Satu gang ini memilih buta dan tuli.

Aku menatap tangan kananku yang masih terbungkus perban kotor. Di mataku—mata yang sudah retak—cahaya biru itu bersinar terang, menembus kain kasa, berdenyut agresif seolah ingin merobek kulit.

Tapi... tunggu.

Otak penulisku yang analitis mendadak bekerja di tengah kepanikan. Martin tidak bisa melihat cahaya di tubuhku malam itu. Di bar, bahkan di apartemennya sebelum dia tertidur seperti manyat. Juga pelayan di bar SCBD tidak melihat cahaya di tanganku. Petugas keamanan bandara juga tidak melihatnya.

Artinya: Orang normal buta terhadap cahaya ini.

Lalu kenapa? Kenapa ibu tetangga tadi menatapku dengan teror murni sebelum membanting pintu? Jika dia tidak bisa melihat tangan kananku yang menyala seperti lampu neon ini, apa yang dia lihat?

Aku menatap bayanganku di kaca jendela Alena yang retak. Wajahku kucel, pucat, biasa saja. Tapi saat aku menatap mata bayanganku sendiri... aku merasakannya.

Hawa dingin. Kekosongan.

Mungkin di mata orang normal, kami—para inang—tidak terlihat bersinar. Mungkin kami terlihat... gelap. Seperti lubang hitam yang menyedot kebahagiaan di sekitarnya. Insting purba manusia tahu mana sesama manusia, dan mana predator yang menyamar memakai kulit manusia. Ibu itu tidak melihat cahaya biru. Dia melihat seekor serigala yang berdiri dengan dua kaki di depan rumah korban pertamanya.

“Sial,” umpatku. “Jadi gue monsternya sekarang?”

Aku mengeluarkan ponsel. Mencoba menelepon Martin. Mungkin dia sudah bangun. Mungkin egonya yang tebal bisa menjadi anchor agar aku tidak gila. Tapi tidak ada sinyal. Bar sinyal di pojok kiri atas ponselku menunjukkan tanda silang.

Aku mengangkat ponsel tinggi-tinggi. Masih nihil. Bukan karena Depok susah sinyal. Tapi karena ada interferensi. Ada yang membajak frekuensi.

Ngiiiing...

Suara itu datang lagi. Kali ini bukan dengungan halus di belakang telinga. Kali ini suaranya seperti bor gigi yang dinyalakan tepat di dalam batang otakku.

“Argh!”

Aku menjatuhkan ponselku. Kedua tanganku refleks memegang kepala. Sakit. Rasanya seperti otakku sedang di-scan paksa.

Dunia di sekitarku mulai bergeser. Warna abu-abu di teras rumah Alena berubah menjadi glitch. Pagar besi yang berkarat tiba-tiba terlihat melengkung. Langit Depok yang cerah berubah menjadi statis televisi yang bersemut.

Lalu, pandanganku ditarik paksa. Bukan lewat mata. Tapi lewat pikiran.

ZRRRTTT!

Aku tidak lagi di Depok. Aku melihat lorong panjang. Putih. Steril. Bau obat yang menyengat. Suara roda brankar didorong cepat. Kriet... kriet... Lampu neon berkedip di atas kepala.

Rumah Sakit.

Pandanganku terseret cepat menyusuri lorong itu. Seolah aku adalah kamera CCTV yang sedang diretas. Atau seolah aku sedang melihat melalui mata Sesuatu yang sedang berjalan di sana.

Pandangan itu berhenti di depan sebuah pintu ganda. Ada tulisan merah di atasnya: ICU. ISOLASI.

Dan kemudian, suara itu muncul. Bukan lewat telinga. Suara itu langsung terukir di korteks otakku.

“Mas Okto...”

Suara Elisabeth. Jernih. Manis. Tapi ada nada distorsi di ujungnya, seperti rekaman suara yang diputar terlalu lambat.

“Mas Okto kok lambat banget sih? Kasian loh Alena. Dia sendirian. Dia kepanasan.”

“KELUAR DARI KEPALA GUE!” teriakku pada udara kosong di teras rumah Alena. Aku memukul kepalaku sendiri.

“Dia nolak hadiah aku, Mas. Dia sombong. Dia pikir otaknya lebih pinter dari alam semesta. Sekarang liat dia...”

Visual di kepalaku berubah. Aku melihat Alena. Dia terbaring di ranjang RS. Tubuhnya dipenuhi selang. Kulitnya... Tuhan... kulitnya merah padam, mengelupas, mengeluarkan asap tipis. Seperti daging yang dipanggang dari dalam. Dia tidak sadar, tapi tubuhnya kejang-kejang menahan sakit.

Dan di sudut ruangan ICU itu... Aku melihat bayangan tanduk Rusa. Samar. Transparan. Menunggu.

“Mas Okto ngebut ya...” bisik Elisabeth lagi. Suaranya terdengar geli, ada suara latar belakang titing-titing mesin kasir minimarket di seberang telepon mentalnya. “Tapi percuma, Mas. Aku udah di parkiran depan. Gedungnya putih, tinggi, jelek. Banyak orang sakit.”

Jantungku berhenti. Dia sudah di sana.

“Aku nungguin kamu loh, Mas. Gak asik kalau aku mulai acaranya tanpa penonton utama. Jadi cepetan ya? Aku kasih waktu sepuluh menit sebelum aku bosen nunggu di lobi.”

ZRRRTTT!

Koneksi putus. Dunia kembali normal dalam sekejap mata. Pagar besi kembali lurus. Langit kembali biru.

Aku terhuyung ke depan, berpegangan pada tiang teras. Napasku memburu. Jantung rasanya mau meledak.

Itu bukan ancaman kosong. Itu undangan. Elisabeth sedang menuju ke sana. Ke Rumah Sakit Sentra Medika. Dia memberitahuku lokasinya bukan karena dia baik. Tapi karena dia ingin penonton. Dia ingin aku melihat apa yang terjadi pada orang-orang yang menolaknya.

Aku menyambar ponsel yang tergeletak di tanah. Layarnya retak, tapi masih nyala. Sinyal kembali penuh. Interferensi hilang begitu Ratu Lebah selesai bicara.

Aku melompat ke atas motor. Menyalakan mesin. Suara knalpot meraung kasar, memecah kesunyian gang yang penuh ketakutan itu.

Rumah Sakit Sentra Medika ada di Jalan Raya Bogor. Kalau macet, butuh 20 menit. Tapi Elisabeth tidak lewat jalan raya. Dia bergerak lewat “Jaringan”. Dia bisa bergerak secepat pikiran Rian atau inang lainnya.

Aku menarik gas dalam-dalam. Ban belakang selip sedikit di atas pasir, lalu motor melesat maju.

“Tunggu gue, Al,” geramku.

Aku memacu motor gila-gilaan keluar dari gang. Di spion, aku melihat bayangan mataku sendiri di balik kaca helm.

Biru. Iris mataku mulai pudar, digantikan oleh pendaran biru yang sama dengan tangan kananku.

Aku menggunakan “bahan bakar” itu sekarang. Aku membiarkan glitch di tubuhku mengambil alih. Karena untuk mengalahkan monster yang bergerak lewat frekuensi, aku harus menjadi monster juga.

Lo setan, Lis. Kita lihat siapa yang lebih dulu sampai.


BAB 3: BANGSAL FREKUENSI TINGGI

Rumah Sakit Sentra Medika, Jalan Raya Bogor.

Gedung itu menjulang putih dan steril di tengah panasnya matahari Depok. Biasanya, tempat ini adalah simbol harapan dan penyembuhan. Tapi hari ini, di mataku yang retak, gedung itu terlihat seperti peti mati raksasa yang menunggu ditutup.

Aku memarkir motor sembarangan di depan lobi IGD. Satpam berteriak, mencoba menghentikanku, tapi aku tidak peduli. Aku membuka helm. Menatap mata satpam itu.

“Minggir,” geramku.

Satpam itu terdiam. Dia mundur selangkah. Dia tidak melihat cahaya biru di mataku. Tapi dia merasakan sesuatu. Instingnya berteriak bahwa orang di depannya ini berbahaya. Bahwa aku membawa muatan listrik yang tidak stabil. Dia membiarkanku lewat.

Aku berlari masuk ke lobi. Suasana di dalam kacau, tapi bukan kepanikan massal. Lebih ke arah kebingungan kolektif. Lampu-lampu di lobi berkedip-kedip tidak beraturan. Zrrrt... Zrrrt... Mesin antrean otomatis mati-nyala, memuntahkan kertas nomor antrean tanpa henti sampai menumpuk di lantai.

“Ada gangguan listrik,” gumam seorang perawat yang lewat dengan tergesa-gesa.

“Bukan listrik,” batinku. “Itu Alena.”

Energi penolakan Alena begitu besar sampai mengganggu kelistrikan gedung. Dia adalah Jammer hidup.

Aku berlari menuju lift. Penuh. Aku banting setir ke tangga darurat. Lantai 3. ICU.

Napas memburu. Kakiku terasa berat, tapi setiap kali aku merasa lelah, urat biru di tangan kananku berdenyut, menyuntikkan energi dingin yang memaksaku terus bergerak. Ini dopamin sintetis. Hadiah dari parasit agar inangnya tidak pingsan.

Lantai 3. ICU.

Lorong itu sepi. Terlalu sepi. Perawat-perawat tidak ada di pos jaga. Mereka semua berkumpul di depan satu pintu di ujung lorong. Pintu Isolasi 1.

Bau itu semakin kuat di sini. Bau ozon. Bau logam panas. Bau rambut terbakar.

Aku menerobos kerumunan perawat. “Minggir! Saya keluarganya!” teriakku.

Mereka menoleh. Wajah mereka pucat. Ketakutan. “Pak, jangan masuk! Bahaya radiasi!” seru seorang dokter muda yang memegang tabung pemadam api ringan (APAR).

“Cuma sebentar, biarkan saya masuk!”

Itu bukan izin. Itu adalah deklrasiAku menabrak pintu ganda itu. Terbuka.

Dan aku berhenti bernapas.

Di tengah ruangan yang luas dan dingin itu, ada ranjang besi. Dan di atasnya, terbaring sesuatu yang nyaris tidak bisa dikenali sebagai manusia.

Alena.

Tubuhnya merah padam. Bukan merah demam berdarah. Merah membara. Seperti besi yang ditempa. Kulitnya melepuh di sekujur tubuh, mengelupas dalam lembaran-lembaran besar, memperlihatkan jaringan otot yang berasap. Cairan tubuhnya mendidih, menguap menjadi kabut tipis yang berbau amis.

Tapi yang paling mengerikan bukan luka bakarnya. Melainkan benda-benda di sekitarnya.

Tiang infus di sebelahnya bengkok. Melengkung menjauhi tubuh Alena seolah-olah menolak bersentuhan dengannya. Monitor EKG meledak, layarnya retak, mengeluarkan percikan api. Bahkan selimut yang menutupi kakinya hangus menjadi abu.

Dia menolak segalanya. Dia menolak cahaya itu, dan cahaya itu membalas dengan mengubah tubuhnya menjadi reaktor nuklir yang bocor.

“Al...” panggilku, suaraku pecah.

Mata Alena terbuka. Sklera-nya merah darah. Pembuluh darahnya pecah semua. Dia menatapku. Dia sadar. Di tengah rasa sakit yang pasti tak terbayangkan itu, dia sadar sepenuhnya. Itulah kutukan orang pintar. Otaknya bertahan paling akhir.

“Ok... to...”

Suaranya bukan suara manusia. Suaranya seperti gesekan dua lempeng tektonik. Berat. Berderit.

Aku mendekat, mengabaikan hawa panas yang menerpa wajahku. Panasnya seperti membuka pintu oven.

“Gue di sini, Al. Gue di sini.”

Aku ingin memegang tangannya. Tapi aku takut tanganku akan hancur—atau lebih parah, memperburuk kondisinya.

“Jangan... deket...” desis Alena. Air mata darah menetes dari sudut matanya, langsung menguap di pipinya yang panas. Cesss.

“Ini... bukan biologi...” Alena terbatuk. Gumpalan darah hitam keluar. “Gue coba itung... frekuensinya... ini suara, To... ini lagu...”

“Lagu apa, Al? Lo ngomong apa?”

“Lagu... penyerahan diri...” Alena menatap langit-langit. “Sel gue... disuruh nyerah... disuruh berenti jadi individu... tapi gue gak mau... gue Alena... gue Alena...”

Dia mengulang namanya sendiri seperti mantra. Berusaha mempertahankan identitasnya di tengah invasi yang mencoba menghapus “Aku” menjadi “Kita”.

Tiba-tiba, Alena kejang hebat. Punggungnya melengkung ke atas. Teriakan tertahan keluar dari tenggorokannya yang hangus.

Dan bersamaan dengan itu, lampu di ruangan ICU mati total. Klik.

Gelap gulita. Hanya diterangi oleh pendaran merah dari tubuh Alena yang membara... dan pendaran biru dari tangan kananku.

Lalu, suhu ruangan turun drastis. Panas dari tubuh Alena tiba-tiba dilawan oleh hawa dingin yang menusuk tulang. Embun beku mulai muncul di kaca jendela ICU. Krak... krak...

Jantungku berhenti. Aku tahu hawa dingin ini. Aku pernah merasakannya di Skandinavia. Aku pernah merasakannya di rumah Rian.

Aku berbalik perlahan ke arah pintu masuk yang gelap.

Di sana. Di ambang pintu. Berdiri sebuah siluet.

Dia tidak melayang. Dia tidak muncul dari kabel listrik. Dia hanya... melangkah masuk dengan santai, seolah dia baru saja selesai dari toilet atau kantin. Napasnya teratur. Bajunya rapi. Dia tidak berkeringat sedikitpun, berbeda denganku yang basah kuyup karena lari tangga darurat.

Jelas. Dia sudah ada di sini sejak tadi. Dia mungkin duduk di kursi tunggu lorong gelap itu, mendengarkan napas Alena yang sekarat, mendengarkan langkah kakiku yang panik menaiki tangga, tersenyum menunggu isyarat untuk masuk panggung.

Elisabeth masuk. Sepatu haknya berbunyi tok-tok yang mengerikan di lantai sunyi itu.Elisabeth tersenyum. Senyum malaikat pencabut nyawa.

“Yah...” katanya. Suaranya bergema, terdengar dari segala arah. “Mas Okto kalah cepet.”

Dia melangkah masuk. Setiap langkahnya membuat lantai ubin retak dan tumbuh bunga-bunga es biru.

“Minggir, Mas,” perintah Elisabeth lembut. “Temen kita kepanasan. Aku mau siram dia.”

Aku berdiri di antara Elisabeth dan Alena. Mengangkat tangan kananku yang bercahaya. “Langkahin mayat gue dulu, bangsat.”

Elisabeth memiringkan kepalanya. Lucu. “Mas Okto...” desahnya kecewa. “Kamu itu cuma backup. Jangan berlagak jadi tokoh utama.”

Dia menjentikkan jarinya.

BUM!

Sebuah gelombang tak kasat mata menghantam dadaku. Keras sekali. Seperti ditabrak truk. Aku terpental ke belakang. Menabrak lemari obat kaca. PRANG! Pecahan kaca menghujani tubuhku. Sakit. Tulang rusukku rasanya retak.

Aku jatuh terduduk, napas sesak. Aku tidak bisa bergerak. Cahaya biru di tanganku meredup, ketakutan di hadapan induknya.

Elisabeth berjalan melewatilewatiku. Tidak menoleh sedikitpun. Dia menuju ranjang Alena.

Alena mencoba berteriak, tapi suaranya hilang. Dia menatap Elisabeth dengan teror murni. Teror logika yang bertemu dengan kiamat supernatural.

“Sssshhh...” Elisabeth meletakkan jari telunjuknya yang bercahaya di bibir Alena yang hangus. “Diem ya, Alena. Sakitnya cuma sebentar kok.”

“Abis ini... kamu gak perlu mikir lagi selamanya.”

Elisabeth membungkuk. Dan dia mencium kening Alena.



BAB 4: TURBULENSI DI DARAT

Ciuman itu berlangsung tiga detik. Tiga detik yang terasa seperti satu abad.

Saat bibir Elisabeth menyentuh kening Alena yang hangus, tidak ada suara desis daging terbakar. Yang ada adalah suara... menelan. Seperti suara air yang disedot masuk ke dalam lubang pembuangan. Gurgle... gurgle...

Cahaya merah yang membara di tubuh Alena tersedot keluar, mengalir masuk ke mulut Elisabeth. Hawa panas di ruangan itu lenyap seketika, digantikan oleh kevakuman yang dingin.

Elisabeth menarik wajahnya. Dia mengelap bibirnya yang kini belepotan abu hitam dan sedikit darah. Dia tidak terlihat jijik. Dia terlihat kenyang.

Alena terdiam. Matanya yang tadi melotot kesakitan kini meredup. Sklera merahnya memudar menjadi putih pucat. Napasnya berhenti menderu. Dia tenang. Terlalu tenang.

“Nah,” bisik Elisabeth lembut, mengusap rambut Alena yang sisa setengah. “Udah nggak sakit kan? Tidur gih. Mimpi yang indah.”

Alena tidak menjawab. Matanya menatap kosong ke langit-langit. Lalu dia berhenti bergerak selamanya. Monitor EKG yang tadi meledak kini mati total. Garis lurus yang tidak tercatat mesin.

Aku masih terduduk di lantai, di antara pecahan kaca lemari obat. Rusukku nyeri hebat. “Lo bunuh dia...” desisku.

Elisabeth berbalik. Gaun putihnya bersih tanpa noda, seolah abu Alena tidak berani menempel padanya. “Aku nyelamatin dia, Mas Okto,” koreksinya dengan nada tersinggung. “Dia itu kayak mesin yang overheat. Aku cuma cabut colokannya.”

Dia berjalan mendekatiku. Langkahnya ringan, tumit sepatunya mengetuk lantai ubin yang beku. Tok. Tok. Tok.

“Sayang banget padahal,” Elisabeth berjongkok di depanku. Wajahnya sejajar denganku. Matanya hitam pekat, menatapku dengan rasa ingin tahu yang klinis. “Padahal aku udah nanem benih-nya barengan sama Kak Martin loh.”

Aku membeku. “Maksud lo apa?”

Elisabeth tersenyum miring. “Di pesawat, Mas. Pas kita pulang. Inget nggak pas turbulensi di atas India? Lampu kabin mati semua. Kalian panik. Kak Martin sampe megang tangan aku kenceng banget saking takutnya mati.”

Ingatanku berputar balik. Penerbangan Qatar Airways. Malam itu. Turbulensi hebat. Masker oksigen hampir turun. Aku sedang di toilet, muntah karena mabuk udara. Martin dan Alena duduk bersebelahan dengan Elisabeth di baris depan.

“Pas gelap itu,” lanjut Elisabeth, suaranya seperti nyanyian tidur. “Aku kasih mereka minum. Sedikit aja. Lewat udara. Lewat napas. Kak Martin nyedot paling banyak karena dia teriak-teriak. Alena juga.”

“Martin...” suaraku tercekat. “Martin juga?”

“Iya. Tapi Kak Martin itu... waduh, dia kayak tembok beton. Benihnya mental semua,” Elisabeth terkekeh. “Dia terlalu penuh sama dirinya sendiri. Nggak ada ruang buat Kami.”

Dia menunjuk mayat Alena dengan dagunya. “Kalau Alena... dia nerima awalnya. Tapi terus otaknya mulai kerja. Dia mulai nganalisis. Dia mulai ngitung. Dia ngelawan arus sungai pake kalkulator. Ya meledak lah.”

Elisabeth menatapku lagi. Kali ini tatapannya berubah. Lebih tajam. Lebih waspada. Tangannya terulur, ingin menyentuh wajahku. Ujung jarinya bersinar biru terang.

“Tapi kamu beda, Mas Okto,” bisiknya. “Aku nggak pernah kasih kamu apa-apa di pesawat. Kamu di toilet waktu itu.”

Dia menyentuh pipiku. Dingin. Membekukan.

“Terus... kamu dapet dari mana?” tanyanya pelan. Matanya menyipit, mencari jawaban di dalam jiwaku. “Kenapa rasanya beda? Punya Rian rasanya manis. Punya kamu... rasanya pait. Kayak racun.”

Amarah meledak di dadaku. Tanpa pikir panjang, tangan kananku—tangan yang retak itu—bergerak sendiri. Aku mencengkeram pergelangan tangan Elisabeth yang ada di pipiku, berniat membakarnya seperti aku membakar Rian.

GRAB.

Aku menyalurkan semua kebencianku. Semua noise. Semua chaos.

TAPI GAGAL.

Tidak ada suara mendesis. Tidak ada kulit Elisabeth yang melepuh. Justru sebaliknya.

“ARGHHH!”

“Aku belajar dari Rian, Mas,” bisik Elisabeth di tengah teriakanku. Tangan kananku tidak membakarnya. Sebaliknya, kulitku sendiri yang mulai mendesis.

Elisabeth tidak melawan Noise-ku dengan kekuatan brute force. Dia melakukan tuning. Seperti radio canggih yang mencari gelombang jernih, dia menyamakan frekuensinya dengan kekacauanku. Dia meniru pola kerusalan jiwaku dalam hitungan mili-detik, lalu membalikkannya. Phase Cancellation.

Dua gelombang suara yang identik jika diadu akan saling menghilangkan. Dan karena energinya seluas samudra dibanding energiku yang cuma selokan, akulah yang hancur.

“Kamu pikir kamu bug?” ejeknya. “Sekarang kamu cuma update sistem yang gagal.”

Perban di tanganku terbakar habis dalam sekejap. Kulitku melepuh, merah padam, berasap. Aku melepaskan tangannya, mundur sambil memegangi tanganku yang gemetar hebat. Rasanya seperti tulangku diremukkan dari dalam.

Elisabeth berdiri. Dia menatap pergelangan tangannya. Tidak ada luka sedikitpun. Hanya sedikit asap sisa kulitku yang terbakar. Dia meniup asap itu pelan. Fiuh.

“Kamu...” Elisabeth menatapku dengan tatapan kasihan. Tatapan seorang kakak melihat adiknya yang lahir tidak sempurna. “Kamu bukan anakku, Mas Okto.”

Dia menggeleng pelan. “Kamu saudaraku. Tapi kamu cacat.”

Suara langkah kaki terdengar dari lorong luar. Suara teriakan satpam dan perawat. “SUARA APA ITU?! DARI ICU 1!” “CEPET! ADA KERIBUTAN!”

Realitas datang menerjang. Kaca yang pecah tadi mengundang dunia masuk.

Elisabeth menoleh ke arah pintu. Lalu dia tersenyum padaku. Senyum yang licik.

“Yah, penontonnya udah dateng,” katanya.

Dia merobek sedikit lengan bajunya sendiri. Mengacak-acak rambutnya. Lalu dia menjatuhkan diri ke lantai, tepat di samping mayat Alena.

Tapi itu belum cukup. Drama butuh darah. Tanpa ragu sedikitpun, Elisabeth menyambar pecahan kaca lemari obat yang berserakan di dekat kakiku.

SREET!

Dia menyayat lengan kirinya sendiri. Panjang. Dalam. Darah segar mengucur deras, menetes ke lantai putih, bercampur dengan abu mayat Alena. Dia tidak meringis. Dia malah tersenyum puas melihat darahnya sendiri. Lalu dia mengoleskan darah itu ke wajahnya, menciptakan topeng korban yang sempurna. Detik berikutnya, senyum itu hilang, digantikan ekspresi ketakutan yang Oscar-worthy.

Dia mulai menangis. Tangisan palsu yang terdengar sangat meyakinkan. Histeris. Ketakutan.

“TOLONG! TOLOOONG!” teriak Elisabeth. “TEMEN SAYA DIBUNUH! ADA ORANG GILA!”

Aku terbelalak. “Bangsat lo, Lis...”

Pintu ganda ICU didobrak terbuka. Dua orang satpam dan seorang dokter masuk. Mereka melihat pemandangan itu: Alena yang mati gosong di ranjang. Elisabeth yang menangis histeris di lantai. Dan aku... Oktonawa, berdiri dengan tangan kanan berasap, dikelilingi pecahan kaca, wajah penuh amarah.

Elisabeth menunjukku dengan tangan gemetar. “DIA PELAKUNYA PAK! DIA BAKAR ALENA! DIA MAU BUNUH SAYA JUGA!”

“PANGGIL POLISI!”

Satpam itu menatapku. Insting mereka bereaksi. Di mata mereka, aku bukan korban. Di mata mereka, dengan tangan melepuh dan mata liar, aku adalah orang gila berbahaya.

“JANGAN BERGERAK!” Satpam itu mencabut pentungan. “TIARAP!”

Aku melihat mayat Alena. Aku melihat Elisabeth yang menyeringai tipis di balik tangisannya. Aku kalah. Kalah tenaga. Kalah narasi.

Aku tidak punya pilihan.

SIAL.


BAB 5: BURONAN FREKUENSI

Adrenalin berpacapu. Mengambil kendali atas tubuhku.

“SAYA BILANG TIARAP!”

Satpam bertubuh besar itu maju, mengayunkan pentungan karetnya. Aku tidak tiarap. Aku melempar tiang infus yang bengkok ke arah mereka. Trang!

Satpam itu kaget, menghindar. Celah terbuka. Aku lari. Aku melompati brankar kosong, menabrak dokter muda yang berdiri mematung ketakutan, dan menerobos keluar pintu ICU.

“TAHAN DIA! KUNCI LOBI!” teriakan terdengar dari belakang.

Aku berlari. Tanpa ampun. Menyusuri lorong rumah sakit. Kakiku terasa berat, tapi adrenalin—dan mungkin sisa energi parasit ini—memaksaku bergerak di luar batas kemampuan manusia. Orang-orang di lorong menyingkir, menjerit melihatku. Aku pasti terlihat mengerikan. Jaket robek, tangan kanan merah melepuh dan berasap, mata liar.

Sirene berbunyi di seluruh gedung. Wiu... Wiu... Wiu... Kode Merah. Atau Kode Hitam. Entahlah.

Aku tidak bisa lewat lift. Tidak bisa lewat lobi utama. Pasti sudah diblokade. Tangga darurat.

Aku menendang pintu Exit. Turun dua-tiga anak tangga sekaligus. Suara langkah kaki berat sepatu boot satpam terdengar menggema di tangga atas. Mereka mengejar.

Lantai 1. Pintu tangga darurat menuju parkiran belakang terkunci. “Sialan!” Aku mundur, lalu menendang tuas pintunya. Gagal. Tanganku yang melepuh berdenyut sakit setengah mati setiap kali jantungku memompa darah. Bip... Bip... Cahaya biru di balik kulitku yang terbakar bersinar redup, lemah. Dia ketakutan. Dia tahu “kakak”-nya yang sempurna ada di atas sana.

Aku mendengar suara napas satpam di lantai 2. Dekat. Aku menggunakan bahu kiriku, menabrak pintu besi itu sekuat tenaga. BRAK! Terbuka.

Udara panas luar ruangan menyambutku. Aku berada di area loading dock, tempat truk sampah medis parkir. Bau busuk sampah organik bercampur obat-obatan.

Ada satu satpam lagi di pos jaga belakang. Dia sedang menelepon, tapi melihatku keluar dengan napas memburu. “HEI! BERHENTI!”

Dia mencabut handy talky-nya, berlari ke arahku.

Aku tidak berhenti. Aku lari ke arah tembok pembatas rumah sakit setinggi dua meter. Di atasku, kawat berduri berkarat. Tidak ada waktu mikir. Aku melompat, meraih tepi tembok dengan tangan kiri, lalu menarik badanku naik. Tangan kananku yang melepuh terpaksa ikut mencengkeram.

“AAARGH!” Aku berteriak. Rasa sakitnya membutakan. Kulit yang melepuh tergesek beton kasar. Darah dan cairan bening menetes. Tapi rasa sakit itu membangunkanku.

Aku berguling melewati kawat berduri. Jaketku robek lagi di punggung. Celanaku nyangkut. Aku jatuh ke sisi lain tembok. Bruk.

Got selokan yang kering dan bau. Aku bangkit, tertatih-tatih lari masuk ke perkampungan padat di belakang rumah sakit.

Sayup-sayup, aku mendengar suara sirine polisi mendekat ke arah rumah sakit. Elisabeth tidak main-main. Dia memanggil hukum manusia untuk menghabisiku.

Aku terus berlari. Menyusuri gang-gang sempit, menghindari jalan utama. Orang-orang kampung menatapku aneh, tapi tidak ada yang berani menegur. Wajahku terlalu putus asa untuk ditanya.

Setelah lima belas menit berlari tanpa arah, aku berhenti di belakang sebuah warteg tutup yang sepi. Aku merosot duduk di tanah becek. Napas rasanya seperti pisau di paru-paru.

Aku melihat tangan kananku. Hancur. Kulitnya merah kehitaman, melepuh parah. Cairan nanah mulai keluar. Dan di sela-sela daging yang rusak itu... cahaya biru itu masih ada. Redup. Berkedip lemah. Bip... ... bip...

Aku kalah telak. Alena mati. Martin masih tidur dalam ketidaktahuannya. Dan sekarang, aku buronan. Pembunuh. Pembakar teman sendiri. Orang gila. Itu narasi yang akan keluar di berita nanti malam. Elisabeth menulis ceritanya dengan sempurna, dan aku dijadikan penjahat utamanya.

Ponselku bergetar di saku yang robek. Aku mengeluarkannya. Layarnya retak seribu, tapi masih nyala.

Ada satu pesan masuk. Dari nomor tidak dikenal.

“Gimana rasanya jadi karakter fiksi di cerita orang lain, Mas? Gak enak kan? :)”

Aku melempar ponsel itu ke got. Biarkan mati. Biarkan aku hilang dari radar.

Aku tidak bisa pulang ke apartemen. Tidak bisa ke Martin. Tidak bisa ke rumah sakit. Aku hantu sekarang. Hantu yang cacat.

Aku memejamkan mata, menyandarkan kepala ke tembok lembap. Air mata menetes. Bukan karena sedih. Tapi karena marah.

“Oke, Lis,” bisikku. “Lo mau gue jadi penjahat?”

Aku mengepalkan tangan kananku yang hancur. Rasa sakitnya membuatku sadar aku masih hidup.

TO BE CONTINUED IN SEASON 1 (PREMIUM)

Penasaran Nasib Okto Selanjutnya?

Okto kini sendirian, dituduh membunuh, dan dikejar oleh entitas yang menguasai kota. Episode 5: "Metastasis" dan kelanjutannya hanya tersedia di Paket Premium.

Dibaca ... kali
0