SHUTTER

SHUTTER

by L.T. Oktonawa

...

BAB 1: Bargain

Pasar loak elektronik. Lantai dasar.

Reno melangkah cepat, sepatu boots-nya berdecit di ubin retak. Dia tidak melihat ke kiri-kanan, mengabaikan pedagang lensa jamuran yang memanggil-manggil. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

Sony A7III—istri, nyawa, sekaligus mesin uangnya—tewas pagi ini. Shutter-nya macet total. Besok ada deadline katalog, dan dia butuh senjata pengganti. Sekarang.

Dia berbelok ke kios pojok yang suram. Di balik etalase kaca yang buram oleh sidik jari berminyak, seorang pria paruh baya sedang melamun menatap kipas angin.

"Bang Yanto," panggil Reno, menepuk kaca etalase.

Pria itu tersentak. Matanya yang cekung dan berkantung tebal mengerjap panik, seolah baru dibangunkan dari mimpi buruk.

"Eh... Reno. Tumben sore-sore, Ren. Cari apa?"

"Kamera gue jebol, Bang. Ada stok full frame murah nggak? Nikon D700 atau apa kek yang ready pake."

Yanto menggaruk kepalanya yang berminyak. "Waduh, kosong, Ren. Adanya mirrorless pemula semua. Itu tuh, Fuji seri lama."

Reno mendengus kecewa. Matanya menyapu isi etalase dengan tatapan meremehkan. Sampah plastik. Sensor kecil. Mainan anak TikTok.

Saat itulah matanya menangkap sesuatu.

Di sudut paling belakang etalase, terhimpit di antara tumpukan handycam rongsok, ada sebongkah logam hitam yang menyerap cahaya. Besar. Tanpa flash bawaan. Prismanya menonjol tajam dan agresif.

"Itu apaan nyempil di belakang, Bang?" tunjuk Reno.

Yanto menoleh. Wajahnya berubah aneh. Ragu.

"Oh... itu. Canon 5D Classic. Seri pertama."

Jantung Reno melompat satu ketukan. Sang Legenda. Sensor purba yang warnanya magis.

"Keluarin, Bang. Gue mau liat."

Yanto tampak enggan. Gerakannya lambat saat membuka kunci etalase. Dia mengambil kamera itu bukan pada grip-nya, melainkan memegang ujung lensa dengan dua jari, seolah benda itu menjijikkan atau panas.

Brak.

Benda itu mendarat di meja kaca.

Reno langsung menyambarnya. Berat. Dingin. Bodi magnesium alloy yang kokoh, penuh baret halus tanda jam terbang tinggi. Ini bukan kamera, ini tank tempur.

"Gila... masih mulus mesinnya?" Reno mengintip viewfinder. Gelap, tapi optiknya bersih. Cermin di dalamnya utuh.

"Jujur aja, Ren," suara Yanto memelan, dia melirik kiri-kanan. "Itu barang titipan orang. Katanya punya kakaknya. Udah dua tahun nganggur di lemari, nggak pernah disentuh."

"Dua tahun? Jamuran dong?"

"Nah itu. Orangnya minta tolong dicek sama yang paham. Gue belum sempet bongkar dalemannya. Takut ada... ya, tau sendiri barang lama."

Reno memutar-mutar bodi kamera. Jarinya berhenti di tali strap bawaan yang masih terpasang. Kain nilon itu kaku dan apek. Di bagian dalam, yang menempel ke leher, ada noda kerak berwarna cokelat kemerahan yang mengering.

"Ini apaan, Bang? Sambel?" Reno mengikis noda itu dengan kuku. Baunya logam. Amis samar.

Yanto memalingkan wajah, sibuk mengelap keringat di dahi padahal AC sentral mati. "Kena cat kali, Ren. Atau oli. Namanya juga barang gudang."

"Berapa?"

"Tiga setengah. Sama lensa 50mm fix-nya."

Reno tertawa sinis. "Mahal amat buat barang judi, Bang. Kalau sensornya dead pixel gimana? Shutter-nya lemes gimana? Dua tahun nggak dipanasin."

"Yaudah, tawar berapa." Yanto terdengar putus asa. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai gelisah.

"Satu setengah. Take it or leave it. Gue butuh sekarang."

Itu harga sadis. Penipuan legal.

Tapi Yanto tidak mendebat. Dia menatap kamera itu, lalu menatap Reno dengan tatapan aneh—campuran antara kasihan dan kelegaan.

"Bawa, Ren. Angkut. Tapi kalau ada apa-apa, jangan balikin ke gue ya. Putus transaksi."

Reno menyeringai lebar. "Beres, Bang. Lo emang temen gue paling asik."

Uang berpindah tangan. Yanto memasukkan lembaran merah itu ke saku celana dengan gerakan menyambar, tanpa menghitung.

"Nggak ada plastik, Ren. Kalungin aja."

"Santai."

Reno mengalungkan kamera itu. Tali strap yang kaku langsung bergesekan dengan kulit leher belakangnya. Kasar. Gatal. Seperti dilingkari kawat berkarat.

Reno melenggang keluar dari pasar loak. Senyum miring tercetak di wajahnya. Dia baru saja menang telak. Di belakangnya, Yanto buru-buru menarik rolling door kiosnya, menutup toko padahal matahari belum sepenuhnya tenggelam.

***

Langit Jakarta sore itu memar. Ungu lebam bercampur oranye polusi.

Reno berdiri di atas JPO. Angin kencang menampar wajahnya, membawa debu jalanan yang pedih di mata. Dia tidak peduli. Viewfinder optik membingkai dunia di bawahnya.

Dia membidik. Fokus.

CTAK-GLEG.

Suara shutter-nya brutal. Suara besi menghantam besi. Getarannya merambat dari telapak tangan sampai ke siku Reno.

"Sadis," gumam Reno kagum. "Ini baru kamera."

Dia memotret lagi. Ojol yang melamun. Karyawan SCBD yang lari mengejar busway. Wajah-wajah lelah kota ini terlihat lebih artistik lewat sensor tua ini. Grain-nya kasar, warnanya pucat tapi berkarakter.

Cahaya makin tipis. Lampu-lampu jalan mulai menyala kuning. Reno turun ke trotoar. Dia mencari satu frame penutup sebelum pulang.

Sebuah truk tronton tua berhenti di lampu merah. Asap knalpot hitam mengepul, menyelimuti trotoar. Di kolong truk, di celah antara ban ganda belakang dan aspal, ada kegelapan yang pekat. Tekstur ban yang gersang. Cahaya merah lampu rem yang memantul di aspal berminyak. Kontras yang sempurna.

Reno berjongkok. Membidik kolong truk. Fokus manual. Dia memutar cincin lensa. Di dalam jendela bidik yang sempit, bayangan hitam itu terlihat tajam.

Zzt.

Tiba-tiba cincin lensa berputar sendiri di tangan Reno. Sedikit. Melawan jemarinya.

Reno mengernyit. "Mekaniknya kendor?"

Dia memutar paksa fokusnya kembali. Mengunci tekstur ban. Tapi tepat sebelum telunjuknya menekan tombol, matanya menangkap sesuatu di pojok viewfinder.

Di celah sempit antara ban dan aspal. Ada tangan.

Pucat, kurus, dengan jari-jari yang menekuk ke arah yang salah. Tangan itu seolah sedang mencengkeram aspal, mencoba menarik tubuh yang tak terlihat keluar dari kolong.

Reno menyentak kamera turun dari wajahnya. Melihat langsung dengan mata telanjang.

Kosong.

Hanya ada ban kotor dan aspal.

"Kurang kopi gue," desis Reno. Dia menggosok matanya. Efek begadang dan debu pasar tadi pasti bikin halusinasi. Truk itu menderu, melaju pergi meninggalkan asap tebal.

Reno mengangkat kamera lagi. Masa bodoh. Momennya hilang, tapi jejaknya masih ada. Dia memotret jalanan kosong bekas truk tadi.

CTAK-GLEG.

Dia melihat layar LCD. Fotonya gelap, moody. Ada nuansa mencekam yang entah datang dari mana. Leher belakangnya makin perih. Reno menggaruknya kasar. Ujung jarinya basah dan lengket.

Dia melihat jarinya di bawah lampu jalan. Merah. Darah segar?

"Bangsat, luntur," umpat Reno. Dia mengusap jarinya ke celana jeans. "Si Yanto jualan barang dekil amat. Besok gue ganti tali sialan ini."

***

Kamar Reno hening dan dingin. AC menyala di suhu 18 derajat, tapi Reno berkeringat tipis. Dia duduk di depan monitor 4K-nya. Kabel data terhubung.

Importing Files...

Dia membuka Lightroom. Jemarinya menari lincah, merasa seperti maestro. Dia mengedit foto jalanan tadi. Di layar resolusi tinggi, detail aspal itu terlihat gila.

"Gokil. Satu setengah juta dapet 'jiwa' kayak gini."

Reno melakukan zoom 100%. Memeriksa ketajaman. Matanya menyisir ke pojok kiri bawah foto. Area gelap bekas ban truk tadi.

Ada glitch.

Pikselnya pecah. Warnanya bukan hitam, tapi campuran merah marun dan motif kotak-kotak flanel yang samar. Reno memperbesar lagi. 200%. Bentuknya abstrak tapi... mengganggu. Seperti sobekan kain kemeja. Dan di balik kain itu, ada warna putih tulang yang mencuat tidak wajar.

"Sensor tua, hot pixel-nya ngaco," Reno mendecih, berusaha meyakinkan diri sendiri. Logikanya menolak hal lain. Estetika adalah segalanya.

Kursornya menyambar Crop Tool. Memotong bagian pojok kiri bawah yang glitch itu.

Crop. Hilang. Bersih.

Sempurna. Bagi Reno, cacat visual tidak layak tampil.

Reno mengekspor foto itu. Mengirim ke HP. Upload Instagram Story & Feed.

Caption: "New gear, old soul. 5D Classic magic. #streetphotography #jakarta #grainisgood"

Post.

Reno meletakkan HP di meja nakas. Notifikasi like pertama langsung masuk dalam detik ketiga. Dia tersenyum puas.

Dia melepas kamera dari lehernya. Kulit lehernya merah meradang, membentuk garis melingkar yang lecet, persis seperti bekas jeratan tali tambang. Dia menaruh kamera itu di rak pajangan, di sebelah lensa-lensa mahalnya yang lain. Lensa 50mm itu menghadap lurus ke arah kasur Reno. Seperti mata satu yang tidak bisa berkedip.

"Besok gue bersihin lo," gumam Reno, mematikan lampu kamar.

Reno memejamkan mata, membiarkan kelelahan menariknya tidur. Dia tidak sadar bahwa di dalam kegelapan kamar yang sunyi itu, dia tidak sendirian.

Dari arah rak pajangan, terdengar suara mekanik yang sangat halus.

Zzt.

Lensa kamera itu berputar perlahan. Mengubah titik fokus. Dari dinding kosong... mengunci ke arah dada Reno yang naik turun bernapas.

...Cekrek.

Suaranya lirih, tapi di ruangan yang sunyi itu, terdengar seperti vonis mati.


...

Bab 2: File

Logika Reno sederhana: kalau ada bug, restart. Kalau ada virus, format. Kalau ada konten yang bikin masalah, hapus.

Jari telunjuknya menekan opsi Delete di Instagram. Konfirmasi: Are you sure? Yes.

Foto jalanan aspal itu hilang dari feed. Angka notifikasi berhenti berkedip. Reno menghela napas panjang, lalu melempar punggungnya ke sandaran kursi kerja Herman Miller-nya. Masalah selesai. Netizen punya ingatan pendek. Besok juga mereka lupa.

Dia memencet F5 di browser laptop. Sekadar memastikan.

Refresh.

Layar berkedip putih sebentar.

Foto itu ada lagi.

Di posisi paling atas. Dengan jumlah like yang sama. Komentar yang sama.

Reno menegakkan punggung. "Server error," gumamnya, mencoba rasional. "Cache belum ke-clear."

Dia menyambar HP. Refresh aplikasi.

Foto itu masih di sana. Tapi kali ini, caption-nya berubah. Bukan lagi "New gear, old soul..." Teks itu berganti menjadi deretan angka biner yang acak, diselingi satu kalimat yang ditulis dengan huruf kapital:

JANGAN DIHAPUS. AKU BELUM SELESAI CERITA.

Reno melempar HP-nya ke meja. Bunyi tak keras terdengar saat casing membentur kayu. Kulitnya meremang. Bukan dingin AC. Ini dingin yang menusuk dari dalam tulang.

Dia menatap kamera Canon 5D di rak pajangan. Lampu LCD oranye itu sudah mati. Tapi lensanya... lensa itu seolah sedang menatapnya dengan sabar.

Reno butuh jawaban logis. Dia orang teknis. Hantu tidak bisa meretas server Meta. Pasti ada malware di kartu memori yang dia colok tadi. Script jahat yang membajak akunnya.

Reno menyambar kamera itu kasar. Menekan tombol eject di samping slot memori. Kartu CF (Compact Flash) itu melompat keluar.

Panas.

Kartu memori itu panas sekali di telapak tangan Reno, seolah baru saja dipanggang di atas api. Reno meniupnya sebentar, lalu menyolokkannya ke card reader eksternal.

Layar laptop berkedip. Jendela Explorer terbuka otomatis.

Biasanya, struktur folder kamera Canon itu standar: DCIM > 100EOS5D. Tapi kali ini, folder itu tidak ada. Hanya ada satu folder dengan nama yang ditulis dengan karakter aneh, seolah keyboard rusak. Namun bisa dibaca:

L4ST_RIDE

Reno menelan ludah. Kursor mouse-nya gemetar di layar.

"Isengin gue lo, Yan? Sumpah nggak lucu," desisnya pada ruangan kosong. Dia berusaha yakin Yanto sengaja menaruh file prank.

Klik dua kali.

Folder terbuka.

Isinya empat file foto. Format JPEG. Ukuran file besar. Tanggal pengambilan: 12 Mei 2022. Dua tahun lalu. Jam: 23:45.

Reno membuka file pertama. IMG_9996.JPG.

Viewer foto terbuka. Darah Reno surut dari wajahnya.

Itu foto selfie. Diambil dengan angle rendah, kamera ditaruh di atas speedometer motor. Seorang gadis muda. Memakai kemeja flanel merah hitam. Helm half-face putih yang kacanya dibuka.

Wajahnya basah. Air mata membanjiri pipi, melunturkan bedak tipisnya. Matanya merah, bengkak, menatap lensa dengan tatapan yang menghancurkan hati. Tatapan orang yang sudah tidak punya harapan.

Di latar belakang, terlihat lampu-lampu jalan yang blur menjadi garis panjang. Motor sedang melaju kencang.

Reno menekan panah kanan. File kedua. IMG_9997.JPG.

Masih angle yang sama. Tapi ekspresinya berubah. Gadis itu—Tari—sedang tertawa. Bukan tawa bahagia. Mulutnya terbuka lebar, memperlihatkan gigi yang rapi, tapi matanya melotot kosong. Dia menjerit. Urat lehernya menonjol. Rambutnya berantakan diterpa angin malam. Jarum speedometer di bawah wajahnya menunjuk angka 100 km/jam.

Reno merasa mual. Dia kenal jalanan di latar belakang itu. Tempat dia memotret tadi sore.

File ketiga. IMG_9998.JPG.

Gambar berguncang (motion blur). Tangan Tari tidak ada di setang motor. Dia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke samping. Seperti pose di film Titanic. Tapi ini bukan romantis. Ini penyerahan diri.

Di pantulan kaca spion motor, terlihat dua titik cahaya besar yang mendekat dari arah depan. Cahaya putih menyilaukan. Lampu truk.

Reno ingin menutup laptopnya. Dia tidak mau melihat file terakhir. Instingnya berteriak untuk berhenti. Tapi jarinya kaku, justru menekan panah kanan.

File keempat. IMG_9999.JPG.

Frame terakhir. Shutter speed tinggi membekukan momen kehancuran.

Semuanya putih. Overexposure. Cahaya lampu truk memenuhi 90% frame. Tapi di sisa 10% di bagian bawah... terlihat benturan itu.

Setang motor yang bengkok. Pecahan kaca spion yang melayang di udara. Dan sebagian wajah Tari yang terhantam besi pelindung truk. Rahangnya... bergeser. Kulit pipinya robek seketika. Foto itu tajam. Mengerikan.

Reno menutup laptopnya dengan keras.

BRAK!

Napasnya putus-putus. Dia mundur dari meja kerja, kakinya menendang kursi hingga terguling.

Itu bukan kecelakaan. Itu bunuh diri yang direkam. Tari sengaja menabrakkan diri ke truk itu. Dia menjadikan kamera ini sebagai saksi mata tunggal. Kotak hitam penerbangannya menuju neraka.

"Gila..." bisik Reno. "Sakit jiwa."

Tiba-tiba, dia sadar sesuatu. Hening. Suara bising fan laptop mati. Suara AC mati. Suara lalu lintas Jakarta di luar jendela apartemennya lenyap. Kesunyian total. Seperti di dalam ruang hampa udara.

Lalu, bau itu datang lagi. Lebih kuat.

Bau bensin yang tumpah. Bau karet hangus. Bau daging yang terpanggang aspal panas.

Dan suara.

Dari speaker laptop yang tertutup. Dari dalam mesin yang seharusnya sleep. Terdengar suara isak tangis. Kecil. Lirih.

"Hiks... sakit, Ren..."

Reno menatap laptopnya horor. Suara itu berubah. Menjadi tawa cekikikan.

"Tapi seru. Kamu mau coba?"

Layar laptop yang tertutup itu menyala dari celah-celahnya. Cahaya putih terang memancar keluar.

Reno menyambar kartu memori yang masih tercolok di card reader. Dia mencabutnya paksa tanpa eject. Panasnya membakar kulit jari. Reno melempar kartu itu ke lantai.

Dia menginjaknya dengan boots.

Krek.

Plastik pecah. Chip patah.

Reno menginjaknya lagi. Dan lagi. Sampai kartu memori itu hancur menjadi serpihan plastik hitam tak berbentuk.

"Mati lo! Mati!" teriak Reno.

Hening kembali. Cahaya laptop mati. Bau bensin memudar perlahan.

Reno berdiri terengah-engah di tengah kamar. Dia menang. Dia sudah menghancurkan sumbernya. File itu hilang. Memori itu hancur.

Dia mengambil HP-nya untuk memastikan. Membuka galeri. Kosong. Membuka Instagram. Foto itu sudah hilang. Akunnya bersih.

Reno jatuh terduduk di lantai. Lega. Kakinya lemas. Keringat dingin mengucur deras.

"Cuma teknologi," gumamnya, mencoba meyakinkan diri sendiri. "Cuma error."

Dia merangkak naik ke kasur. Dia butuh tidur. Dia butuh melupakan wajah hancur di foto terakhir itu. Reno memejamkan mata. Satu menit berlalu. Dia hampir terlelap.

Cekrek.

Suara shutter itu. Sangat dekat. Tepat di samping telinganya. Di atas bantal.

Reno membuka mata.

Di sebelahnya, di atas bantal kosong... Kamera Canon 5D itu duduk manis. Padahal tadi ada di rak pajangan.

Dan di layar LCD kecil bagian atas kamera, angka frame counter-nya berkedip-kedip merah.

Angka itu bukan lagi sisa foto yang bisa diambil. Angka itu menghitung mundur.

05... 04... 03...


...

Bab 3: Teror

Kamera itu tidak bisa dibuang.

Reno sudah mencobanya tiga kali.

Pertama, dia memasukannya ke tas plastik hitam, mengikat simpul mati, lalu melemparnya ke trash chute di lorong apartemen. Dia mendengar bunyi gedebuk berat saat benda itu jatuh ke bak penampungan di lantai dasar. Dia kembali ke kamar, mengunci pintu, menyalakan TV volume maksimal. Lima menit kemudian, dia ke kamar mandi. Saat keluar, kamera itu sudah duduk manis di atas meja makan. Plastiknya hilang. Lensanya bersih tanpa noda sampah.

Kedua, dia membawa kamera itu turun ke basement. Dia menyelipkannya di bagasi mobil tetangga yang tidak dikunci. Saat dia naik lift kembali ke unitnya, kamera itu sudah ada di dalam lift bersamanya. Tergantung di handrail besi. Berayun pelan seirama dengan dengung mesin lift.

Ketiga, dia mencoba menghancurkannya. Dia mengambil palu.

Dia memukul lensa itu sekuat tenaga.

PRAK!

Kaca pecah? Tidak. Palu itu yang mental. Gagang kayunya patah di tangan Reno, membuat telapak tangannya lecet. Kamera itu tidak tergores sedikit pun. Cat hitamnya justru makin mengkilap, seolah menyerap kekerasan yang diberikan Reno.

Sekarang, Reno duduk di sudut sofa. Jauh dari meja makan tempat kamera itu bertahta.

Dia gemetar. Bukan karena dingin AC yang sudah dimatikan, tapi karena apartemen studio yang biasanya terasa homey dan privat ini, sekarang terasa seperti kotak kaca di kebun binatang.

Dan dia adalah tontonan.

Dia butuh suara manusia. Reno mengambil HP-nya. Menelepon Andre, asisten fotonya.

Video call.

"Halo, Ren?" Wajah Andre muncul di layar. Kusut. Baru bangun tidur. "Tumben video call. Kenapa? Cancel job besok?"

"Nd... Dre..." Suara Reno tercekat. Lidahnya kelu. "Gue butuh lo ke sini. Sekarang."

Andre mengernyit. Dia mendekatkan wajah ke kamera HP-nya. "Lo kenapa? Pucet banget. Sakit?"

"Ada yang... ada yang aneh di sini. Gue nggak bisa jelasin. Lo ke sini aja."

"Yaelah, parno amat. Lo abis nonton horor?" Andre tertawa. Dia meraih gelas kopi di mejanya.

Tiba-tiba, tawa Andre berhenti mendadak. Gelas kopi di tangannya menggantung di udara. Mata Andre tidak melihat ke wajah Reno. Dia melihat ke belakang Reno. Ke arah punggung Reno.

"Ren..." suara Andre berubah. Rendah. Takut. "Itu siapa?"

Reno membeku. Bulu kuduk di lehernya berdiri serentak.

"Siapa apanya?" bisik Reno.

"Di belakang lo. Cewek."

Jantung Reno seolah berhenti berdetak.

"Pake baju flanel..." Andre mulai gemetar. HP-nya goyang. "Ren... mukanya... astaga Tuhan... mukanya kenapa itu?!"

"Jangan bercanda, Dre!"

"LARI REN! DIA MELUK LO!"

Andre berteriak histeris. Layar HP Reno mati. Sambungan terputus.

Reno tidak berani menoleh. Tapi dia merasakannya.

Berat.

Ada beban berat yang tiba-tiba menekan bahunya. Dingin. Seperti ada balok es yang diletakkan di punggungnya.

Dan baunya. Bau bensin oplosan yang menyengat. Bau ban karet yang terbakar aspal. Bau darah anyir yang kental. Bau kematian di jalan raya.

Reno merasakan dua lengan dingin melingkar di lehernya. Lengan yang kurus, tulang berbalut kulit. Kain flanel kasar menggesek pipinya. Lengan itu memeluknya erat. Posesif.

"Reno..."

Bisikan itu bukan di telinga. Bisikan itu bergema langsung di dalam tempurung kepala.

"Sepi ya di sini..."

Reno memejamkan mata rapat-rapat. "Pergi! Ini bukan salah gue! Gue cuma beli kamera!"

"Salahmu..." suara itu terkekeh. Suara tawa yang basah, seperti orang berkumur darah. "Kamu yang buka mataku. Kamu yang lihat aku."

Pelukan itu makin erat. Tulang selangka Reno terasa nyeri. Dia sesak napas. Reno memberanikan diri membuka mata. Dia melihat ke cermin besar di dinding seberang sofa.

Di cermin itu... dia sendirian. Tidak ada siapa-siapa di belakangnya. Tidak ada tangan yang memeluknya.

Tapi di cermin itu, dia melihat bajunya sendiri. Kaos putih mahalnya. Di bagian bahu dan dada, kain putih itu basah. Merah. Darah merembes entah dari mana, mencetak bentuk pelukan tangan yang tak terlihat.

Reno menjerit. Dia meronta, melepaskan diri dari pelukan hantu itu. Dia jatuh terguling dari sofa. Menabrak meja kopi. Gelas pecah.

Dia merangkak mundur. Napasnya memburu.

Di atas meja makan, kamera Canon 5D itu bereaksi. Layar LCD-nya menyala terang. Speaker kecil di samping bodi—yang seharusnya cuma buat bunyi beep fokus—mengeluarkan suara statis kresek-kresek. Lalu suara yang jelas.

"Ayo jalan-jalan, Ren..."

"Aku kangen motoran..."

"Ngebut yuk..."

Reno menutup telinganya. "Nggak! Gue nggak mau mati!"

Kamera itu bergetar. Lensa 50mm-nya berputar zoom in-out dengan agresif. Zzt-zzt. Zzt-zzt. Seperti napas mesin yang marah.

"Bawa aku..." suara itu berubah menjadi geraman rendah. "Atau aku yang bawa kamu di sini selamanya..."

Lampu apartemen berkedip. Pet. Pet.

Setiap kali lampu mati, Reno melihatnya. Dalam kegelapan sepersekian detik itu, Tari ada di sana. Berdiri di sudut ruangan. Berdiri di depan TV. Berdiri di samping kulkas.

Makin lama makin dekat.

Wajahnya yang hancur itu tersenyum lebar, lidahnya menjulur panjang menyentuh lantai.

Reno terpojok. Dia sadar, apartemen ini sudah menjadi peti mati. Hantu itu menginginkan jalan raya. Jika Reno tetap di sini, dia akan mati diremukkan di ruang tamu ini. Satu-satunya kesempatan adalah membawa kamera itu keluar. Membuangnya di jalan tol. Menghancurkannya di aspal.

"Oke," desis Reno dengan mata liar. Dia berdiri. Kakinya goyah. "Lo mau jalan-jalan? Gue ajak lo jalan-jalan. Jalan terakhir lo."

Dia menyambar tas punggungnya. Menyambar kamera itu dengan gerakan cepat—rasanya panas, seperti memegang bara api. Dia memasukkannya paksa ke dalam tas. Menutup ritsleting.

Reno menyambar kunci motor dan helm full-face.

Dia berlari keluar unit. Membanting pintu.

Dia tidak menunggu lift. Dia lari lewat tangga darurat. Turun dua puluh lantai. Suara langkah kakinya bergema di tangga beton. Tapi dia tidak sendirian.

Di belakangnya, terdengar suara langkah lain. Bukan langkah sepatu.

Tapi suara tulang patah yang diseret. Krek... srek... krek... srek...

Dan suara senandung lirih yang menggema di lorong tangga.

"Naik kereta api... tut... tut... tut..."

Reno melompati anak tangga terakhir. Menendang pintu darurat basement. Udara parkiran yang pengap menyambutnya.

Dia lari ke motor sport-nya. Kawasaki Ninja hitam. Tangan gemetar memasukkan kunci. Mesin menderu. Knalpot bising memecah keheningan basement.

Reno memakai helm. Menurunkan kaca visor.

Di dalam tas punggungnya, kamera itu terasa berat sekali. Seberat mayat manusia dewasa yang membebani tulang punggungnya.

Reno tancap gas. Ban berdecit.

Dia melesat keluar dari gedung apartemen. Menuju jalan raya Jakarta yang mulai sepi, tanpa sadar bahwa dia baru saja menuruti permintaan terakhir sang arwah.

...

Bab 4: Blind Spot

Jalanan aspal mengalir di bawah ban motor seperti sungai minyak hitam.

Speedometer: 80... 90... 100 km/jam.

Reno membelah angin malam. Kawasaki Ninja-nya menjerit di gigi empat. Dia tidak peduli batas kecepatan. Dia tidak peduli lampu merah. Di punggungnya, tas kamera itu terasa semakin berat. Bukan berat magnesium alloy. Berat dosa. Berat mayat.

Setiap kali motor berguncang menghantam lubang, Reno merasa ada yang bergerak di dalam tas. Dug. Dug.

Seperti kepala yang membentur tulang punggungnya. Minta keluar.

"Sabar," desis Reno di balik helm full-face-nya. Matanya liar menatap jalanan sepi. "Gue buang lo di laut. Biar karatan. Biar mampus."

Dia melintasi jalan layang non-tol. Angin samping kencang sekali. Motor goyang.

Tiba-tiba.

Gudubrak.

Motor oleng parah. Bukan karena angin. Suspensi belakang amblas. Shockbreaker turun drastis sampai mentok. Besi sasis motor beradu dengan aspal, memantik percikan api yang memancar di bawah kaki Reno.

Motor itu mendadak berat. Sangat berat. Seolah ada benda seberat dua kuintal yang baru saja loncat duduk di jok belakang.

Reno menahan setang sekuat tenaga agar tidak jatuh. Otot lengannya menjerit. Motor melambat paksa karena beban itu. Keringat dingin menetes masuk ke mata. Perih.

Reno tahu aturannya: Jangan melihat spion. Kalau lo nengok, lo kalah.

Tapi manusia adalah budak rasa ingin tahu.

Mata Reno melirik ke kanan. Ke kaca spion kecil yang bergetar hebat.

Di sana. Di dalam cermin cembung itu.

Ada dagu.

Dagu yang tidak utuh. Tulang rahang bawahnya hilang, menyisakan daging merah bergerigi yang terkewer-kewer ditiup angin kencang. Di atasnya, hidung yang rata dengan pipi. Dan mata. Satu mata hilang, lubang gelap yang mengucurkan cairan hitam. Satu mata lagi melotot, putih semua, menatap Reno dengan tatapan rindu yang sakit.

Kulit wajahnya bukan kulit. Itu aspal. Kerikil hitam tertanam dalam di daging pipinya.

Tari.

Dia duduk di belakang. Membonceng. Rambutnya yang kaku oleh darah kering berkibar, memukul-mukul helm Reno. Tak. Tak. Tak.

"Ngebut lagi, Ren..."

Suaranya tidak masuk lewat telinga. Suara itu merambat lewat tulang punggung. Getaran dari dada Tari yang menempel di punggung Reno.

"Ayo... seratus lagi..."

Reno menjerit. "TURUN! TURUN LO SETAN!"

Dia menggoyangkan motor. Zig-zag. Berusaha menjatuhkan penumpang gaibnya. Tari tidak jatuh. Dia justru merapatkan tubuhnya.

Tangan Tari melingkar ke depan. Tangan pucat dengan jari-jari yang patah dan bengkok ke arah yang salah. Dia memeluk pinggang Reno.

Erat. Makin erat. Reno merasa tulang rusuknya ditekan besi catut.

Krak.

Satu rusuk patah. Menusuk paru-paru.

"ARGH!"

Reno tersedak. Darah amis naik ke tenggorokan. Sakitnya nyata. Fisik. Brutal.

"Jangan rem..." bisik Tari. Lidahnya yang panjang menjulur keluar. Menjilat kaca helm Reno dari samping. Meninggalkan jejak lendir darah kental yang menghalangi pandangan. "Tabrakin. Biar sama."

Reno buta. Kaca helmnya merah. Napasnya habis. Dia kehilangan kendali. Setang motor lari ke kanan. Masuk jalur lawan.

Dari depan, cahaya putih meledak. Terang. Menyilaukan. Seperti matahari terbit di tengah malam.

Klakson truk tronton menjerit panjang. TIIIIIIIN!

Reno tidak sempat menginjak rem. Di detik terakhir, dia hanya sempat melihat pantulan di spion. Tari tersenyum lebar dengan sisa mulutnya yang robek.

BRAAAK!

Bunyi logam meremuk daging. Dunia berputar. Lalu mati.

***

Gelap.

Lalu sakit. Lalu dingin.

Aspal itu kasar di pipi. Rasanya asin dan berpasir. Reno mencoba membuka mata. Hanya mata kiri yang bisa. Mata kanannya gelap, tertutup pecahan visor helm yang menancap.

Dia tidak bisa bergerak. Tubuhnya terasa aneh. Ringan tapi mati rasa. Kaki kanannya ada di depan wajahnya. Menekuk ke arah yang salah. Tumit menyentuh hidung. Patah tebu. Tangannya terpelintir di belakang punggung dalam sudut mustahil.

Dia berbaring di tengah jalan. Seperti boneka rusak yang dibuang anak kecil.

Di depannya, lima meter dari tempatnya tergeletak... Tas punggungnya robek terbelah dua.

Kamera Canon 5D itu terlempar keluar. Menggelinding pelan. Berhenti.

Posisi sempurna. Duduk tegak di atas aspal.

Bodi magnesium-nya utuh. Hitam. Mengkilap. Tidak ada lecet sedikit pun. Lensa 50mm-nya mengarah lurus ke wajah Reno.

Reno ingin berteriak minta tolong. Tapi dia tidak bisa membuka mulut. Rahang bawahnya hilang. Hancur dihantam bumper truk. Darah menggenang di sekitar kepalanya. Hangat.

Lampu truk yang menabraknya sudah mati. Sopir truk berteriak-teriak panik di kejauhan. Warga mulai berkerumun. Tapi suara mereka jauh. Seperti di dalam akuarium.

Yang terdengar jelas di telinga Reno hanya satu. Suara mekanik halus dari kamera itu. Di tengah kekacauan jalan raya.

Zzt.

Lensa berputar. Fokus terkunci. Mengunci wajah Reno yang hancur. Wajah yang kini mirip dengan Tari.

Cekrek.

Flash imajiner menyala di kepala Reno. Mengabadikan kematiannya dalam resolusi 12 megapixel.

Kesadaran Reno memudar. Dunia menjadi lorong hitam yang panjang.

Di seberang jalan, di bawah tiang lampu yang remang-remang... Reno melihatnya.

Seorang wanita berbaju flanel. Berdiri tegak. Kakinya lurus. Wajahnya utuh. Cantik. Dia memegang helm Reno. Dia tersenyum manis. Melambaikan tangan.

Reno ingin menangis, tapi air matanya darah.

Suara sirine ambulans meraung-raung mendekat, memecah malam. Wiu... wiu... wiu...

Namun bagi Reno, suara itu terdengar sangat jauh, kalah telak oleh suara tawa lirih dari wanita yang kini duduk menunggunya di seberang jalan.

"Gantian ya... sekarang kamu yang di dalam kamera."

...

TAMAT

Dibaca ... kali
0

SHUTTER - Horror (Tamat)

TAMAT (ONESHOT)

OX MEDIA ORIGINAL DISSIDENT

SHUTTER

✍️ Penulis: L.T. Oktonawa tags: Horor, Misteri

"12 Megapixel. 1 Nyawa. 0 Jalan Keluar."

Kamu pikir kamu yang memegang kendali saat memotret? Pikir lagi. Di cerita ini, bukan fotografer yang membidik objek. Tapi mayat dari masa lalu yang sedang membidikmu untuk jadi penggantinya.

Reno, fotografer arogan, melakukan kesalahan fatal: dia mencoba menghapus sosok wanita berwajah hancur yang tak sengaja tertangkap sensor kamera tuanya.

"Shutter kamera itu tidak sedang memotret momen. Dia sedang menghitung mundur nyawa pemilik barunya."

⚠️ Peringatan: Cerita ini mengandung unsur jumpscare visual dan teror psikologis.

SEBERKAS REALITA

SEBERKAS REALITA

by Aryasuta

...

Bab 1: Retak

Hujan turun di Kediri pada hari Selasa yang aneh itu. Bukan hujan biasa, tapi hujan yang terasa asing. Seolah-olah langit sedang menumpahkan air yang tidak berasal dari awan yang sama dengan kemarin; dinginnya meresap hingga ke balik tulang, membawa aroma logam dan kesunyian yang ganjil. Tetesan air jatuh vertikal sempurna—tanpa angin, tanpa suara cipratan, hanya melodi monoton. Dunia di luar jendela kedaiku mendadak kehilangan volumenya, menyisakan sebuah kotak kedap suara di mana hanya aku dan kegelisahanku yang bernapas.

Aku, Ray, 32 tahun, pengelola kedai kopi kecil di sudut kota Kediri yang jarang turis kunjungi. Bukan profesi yang kutargetkan saat usia 23 tahun dan berambisi mengguncang industri kopi Kediri. Dulu, aku percaya bahwa dengan timbangan digital dan termometer yang akurat, aku bisa mengendalikan semesta dalam secangkir porselen. Namun di sinilah aku, memandangi biji-biji kopi yang berhamburan di lantai kayu seperti semut-semut yang kehilangan ratu. Tanganku yang biasanya stabil kini seringkali gemetar tanpa alasan, membuat biji-biji arabika mahal itu menjadi sampah di atas lantai yang berdebu.

“Ada yang berubah dalam cara Anda melihat biji kopi itu,” kata pria di sudut kedai. Pelanggan misterius itu datang setiap Selasa dan Jumat, selalu memesan kopi Ethiopia dengan V60, dan selalu membaca novel terjemahan yang tak pernah kulihat di toko buku manapun. Dia duduk di sana seperti sebuah monumen masa lalu, matanya tidak pernah benar-benar menatap buku, melainkan mengawasiku dengan ketenangan yang mengintimidasi.

“Mungkin cara mataku melihat segala hal sudah berubah,” jawabku. Pikiranku terlempar pada kenyataan bahwa tidak ada angka di timbangan manapun yang bisa mengukur beratnya sebuah kehilangan. Hari itu, seperti hari-hari sebelumnya sejak tanggal 17 November, aku menghitung waktu dengan presisi sebaik mungkin. Seratus empat puluh tujuh hari sejak Tata menghilang tanpa pesan, hanya meninggalkan separuh lemari pakaian yang tiba-tiba kosong dan cangkir favoritnya di tempat yang sama. Setiap detik yang berlalu terasa seperti mililiter air yang merembes pelan ke dalam paru-paruku, membuatku tenggelam dalam keteraturan yang menyesakkan.

Danil, baristaku selama tiga bulan, memiliki tato menyerupai peta yang sering ia amati seolah mencari jalan pulang. Dia adalah anak muda yang bicara dengan kode-kode visual, seolah kata-kata terlalu kasar untuk menggambarkan kerinduannya. “Mas,” katanya sore itu. “Ada telepon dari seseorang bernama Pak Abu. Katanya penting.”

Aku tidak mengenal siapapun bernama Pak Abu. Nama itu terdengar seperti debu, kering dan asing di telingaku. “Dia bilang tentang seseorang bernama L yang menitipkan sesuatu untukmu.”

L. Nama yang tidak ada dalam daftar orang yang kukenal. Namun saat itu, sesuatu mengalir masuk ke dalam kepalaku. Rasa familier yang tak bisa kujelaskan. Seolah-olah sebuah pintu tua yang terkunci di sudut ingatanku tiba-tiba terbuka oleh embusan angin dingin.

“Di mana alamatnya?”

“Gang Skena nomor 21,” jawab Danil.

“Bukan tempat yang mudah ditemukan lewat Google Maps.”

Kediri bukanlah kota besar. Hanya kota kecil di Jawa Timur yang jarang muncul dalam perbincangan anak-anak Jakarta. Namun, selama 32 tahun hidup di sini, ada begitu banyak jalan, gang, dan sudut yang tak pernah kuinjak. Gang Skena adalah salah satunya. Tempat itu seolah bersembunyi di balik lipatan realitas Kediri yang membosankan.

Gang Skena berada di area tengah kota, gang buntu yang berujung ke sebuah sekolah. Tidak ada orang di sana selain seorang penjual kerak telor yang tertidur di gerobaknya. Suasana di sana begitu statis, seolah-olah waktu telah membeku dan debu yang beterbangan adalah satu-satunya hal yang diizinkan untuk bergerak.

“Anda pasti Ray.” Suara itu membuatku berbalik secepatnya. Pria itu mungkin berusia sekitar 70 tahun dengan postur tegak, mengenakan kacamata bundar, dan kemeja bernoda cat biru.

“Pak Abu,” tebakku.

“Tata bilang kamu selalu tepat waktu. Itu tidak sehat.”

Kalimatnya menghantamku. Bagaimana dia bisa mengenal Tata? Dan bagaimana dia bisa tahu tentang obsesiku terhadap waktu? Dia membawaku ke sebuah bangunan tiga lantai yang seharusnya tidak mungkin ada di gang sempit itu. Bangunan itu terlihat seperti gedung sekolah lama dengan pintu bertuliskan Studio Senja.

Interior studio itu penuh dengan kanvas, beberapa kosong, beberapa setengah jadi, dan beberapa tertutup kain. Yang membuatku terkejut, di atas meja kayu panjang yang mungkin pernah menjadi meja guru, terdapat alat-alat penyeduh kopi lengkap—V60, Chemex, Aeropress, dan sebuah mesin espresso tua yang tidak pernah kulihat modelnya. Segala sesuatu di sini terasa seperti pengkhianatan terhadap kenyataan yang selama ini kuyakini.

“Dia menghabiskan sembilan puluh tujuh persen waktunya di sini,” kata Pak Abu, “Tiga bulan terakhir sebelum pergi.”

Aku mencoba memproses informasi itu. Tata adalah desainer grafis freelance yang bekerja dari rumah kami, atau kadang dari kedai. Aku tidak pernah tahu dia melukis. Atau memiliki hubungan dengan tempat aneh ini. Setiap inci dari hidupnya yang kupikir sudah kupahami, kini tampak seperti sketsa yang tidak selesai.

“Saya tidak mengerti,” kataku akhirnya. Pak Abu mengambil sebuah lukisan dari tumpukan dan meletakkannya di depanku. Itu lukisan seorang pria yang sedang menyeduh kopi dengan V60, wajahnya fokus pada timbangan digital, dan setetes keringat menggantung di pelipisnya.

Itu aku. Namun, bukan hanya aku. Ada sesuatu dalam lukisan itu—diriku yang lebih jelas, lebih nyata dari yang kulihat di cermin setiap pagi. Tata menangkap ketakutanku dalam goresan kuas, memperlihatkan betapa menyedihkannya seorang pria yang mencoba mengontrol dunia lewat butiran kopi.

“Dia memanggilnya Manusia yang Menimbang Kehidupan Dalam Gram,” jelas Pak Abu. “Ini lukisan kelima dalam seri tentangmu.”

“Seri?” Tanyaku dengan suara terbata.

“Ada tujuh belas lukisanmu. Delapan di antaranya sudah dibeli kolektor dari Tokyo.” Kenyataan itu menghantamku lebih keras dari kepergiannya; bahwa di suatu tempat di dunia ini, ada orang-orang asing yang memandangi jiwaku yang telanjang dalam kanvas, sementara aku sendiri merasa asing di rumahku sendiri.


...

Bab 2: Kopi Ketidakpastian

Hujan mulai turun lagi saat aku duduk di teras belakang studio. Suaranya tidak lagi terdengar seperti melodi monoton yang menyebalkan, melainkan seperti bisikan-bisikan yang menuntut jawaban dari ruang hampa di dadaku. Dari sini, aku bisa melihat Gunung Wilis yang tampak kabur di balik tirai hujan. Gunung itu berdiri diam, seolah-olah menjadi saksi bisu atas segala rahasia yang disimpan Tata selama ini di balik punggungku.

Di tanganku, sebuah amplop cokelat berisi surat dan beberapa sketsa terasa berat. Jemari-jemariku yang biasanya lincah mengatur suhu air, kini terasa kaku saat merobek segelnya. Kalimat di awal surat itu langsung menusukku: Untuk Ray, yang selalu menghitung segalanya kecuali waktu yang terbuang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Kata-kata itu bukan sekadar sindiran; itu adalah diagnosis atas hidupku yang terlalu sibuk dengan presisi 0,1 gram namun buta terhadap detak jantung di sampingku.

Tata menulis bahwa dia telah didiagnosis dengan tumor rahim. Stadium awal, masih bisa dioperasi, tapi dengan risiko tinggi. Duniaku terasa runtuh, lebih hancur daripada saat mesin espresso mahalku meledak tahun lalu. Dia memutuskan untuk menghabiskan sisa waktunya yang tidak pasti dengan melukis, berkelana, dan melihat dunia tanpa batasan presisi. Di akhir surat, dia menulis: Aku tidak menghilang, Ray. Aku hanya pergi ke tempat yang tidak bisa kau ukur dengan gram dan mililiter. Jika kau memutuskan untuk menemukanku, bukalah dirimu pada ketidakpastian. Aku menunggumu di sana. Di sebuah Kota, Kota Tak Bernama.

Kota Tak Bernama. Nama itu tidak ada dalam atlas mana pun yang pernah kupelajari, namun getarannya terasa nyata di ujung lidahku. Pak Abu muncul dengan dua cangkir kopi. “Ini adalah resep rahasianya. Dia menyebut ini kopi ketidakpastian”. Aku menyesapnya, dan indra perasaku seolah-olah meledak. Kopi itu pahit di awal, manis di tengah, dengan akhir tak terdeskripsikan—seperti lagu dalam bahasa asing yang tak kau pahami, tapi entah bagaimana tetap membuatmu menangis.

“Dia ke mana?” tanyaku dengan suara serak.

“Pertanyaan yang lebih tepat adalah sampai kapan?” Pak Abu menyesap kopinya dengan tenang. “Waktu tidak selalu bergerak linear, anak muda. Terutama bagi mereka yang hidupnya sedang dalam ambang batas”.

Kembali ke kedai, aku menemukan seorang pengunjung baru—perempuan dengan rambut sangat pendek kecuali satu untai panjang di sisi kanan wajahnya. Dia duduk di kursi yang biasanya ditempati Tata, menatapku dengan tatapan yang seolah-olah bisa menembus dinding pertahananku. “Kopi Ethiopia, tanpa gula, V60, suhu air 94 derajat,” katanya sebelum aku sempat menawarkan menu.

“Kamu mengenal Tata?” tanyaku langsung.

“Semua orang mengenal Tata,” jawabnya dengan senyum misterius.

“Pertanyaannya adalah, apakah kamu benar-benar mengenalnya?”. Perempuan itu, Ani, kurator seni dari Yogyakarta, menyerahkan kartu nama Galeri Pembatas Mimpi.

“Tata meninggalkan sesuatu untukmu di kamar 217, Hotel Waktu, Yogyakarta. Datanglah saat kamu siap melepaskan timbanganmu”.

Hotel Waktu ternyata benar-benar ada di Yogyakarta, meskipun tidak ada satu pun taksi yang bisa mengantarku langsung ke sana. Aku harus berjalan selama 17 menit ke arah yang berlawanan dengan Keraton. Setiap langkah yang kuambil terasa seperti sedang mengupas lapisan realitas yang selama ini menyelimutiku. Resepsionis hotel menyerahkan sebuah kunci kuno.

“Ini bekerja hanya jika kamu memegangnya dengan tangan kiri dan menutup mata kananmu saat membuka pintu,” jelasnya dengan serius.

Aku pikir itu lelucon konyol, namun saat aku mencoba membuka pintu kamar 217 dengan cara normal, kuncinya tidak masuk ke lubang. Setelah mengikuti instruksi absurd itu, kunci tersebut masuk dengan sempurna seolah-olah pintu itu memang mengenali sentuhan ketidaklogisanku.

Kamar itu kecil tapi terasa lebih luas dari yang seharusnya. Dindingnya putih bersih dengan satu lukisan besar: diriku yang sedang tidur dengan ekspresi damai—tanpa kekhawatiran, tanpa perhitungan. Di atas meja kecil, terdapat peralatan kopi lengkap dengan sebuah termos air yang masih panas. Uapnya mengepul lembut, seolah-olah seseorang baru saja menuangkannya beberapa detik yang lalu.

Di sampingnya, ada selembar kertas bertuliskan tangan Tata: Seduh dengan 17 gram kopi, atau 19, atau 15. Rasakan perbedaannya. Atau mungkin tidak ada perbedaannya sama sekali. Itu tidak masalah. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyeduh tanpa menimbang. Aku membiarkan air panas mengalir begitu saja, mengikuti insting yang selama ini kukubur dalam angka.

“Bagaimana rasanya?” tanya sebuah suara di belakangku. Aku berbalik dan melihatnya. Tata. Rambutnya pendek, matanya cerah, terlihat kurus namun lebih hidup dari sebelumnya.

“Kamu nyata,” bisikku. “Tergantung definisimu tentang nyata,” jawabnya sambil tersenyum lemah. Dia membuka jendela, dan yang terlihat bukanlah jalan ramai Yogyakarta, melainkan pemandangan Gunung Wilis di Kediri—sebuah kemustahilan geografis yang kini kuterima tanpa perlawanan.

“Tumormu?” tanyaku akhirnya.

“Ya, aku sakit. Tapi ini lebih seperti... realitasku yang tumor. Kadang membesar dan mengaburkan batas-batas, kadang mengecil dan membuatku terjebak dalam satu dunia saja”. Dia menyesap kopi yang kuseduh tanpa timbangan itu dan berkata, “Sempurna”.

“Bukan kesempurnaan yang kamu kejar selama ini, Ray. Tapi kontrol,” katanya lembut. “Waktuku habis di sini. Pembatas antara dunia akan menutup dalam lima menit”. Sebelum menghilang, dia memberikan instruksi terakhir: “Pameranku di Galeri Pembatas Mimpi, 17 November. Datanglah, tapi hanya jika kamu siap melihat realitas yang berbeda. Bawalah cangkir retak dari lemari atas di kedai. Itu kuncinya”.

Dalam sekejap, dia lenyap bersama pemandangan Gunung Wilis, meninggalkanku di sebuah kamar hotel di Yogyakarta yang kini kembali menghadap ke jalanan bising yang normal.

...

Bab 3: Melampaui Timbangan

Kembali ke Kediri, aku menemukan kedaiku telah berubah. Bukan perubahan fisik yang drastis, tapi sesuatu yang lebih halus, seolah-olah atmosfer di dalamnya telah bergeser beberapa derajat dari porosnya. Aroma kopi yang biasanya tajam dan klinis kini bercampur dengan wangi tanah dari tanaman-tanaman kecil yang diletakkan Danil di setiap sudut meja. Cahaya lampu yang dulu kusetel dengan terang benderang kini tampak lebih temaram dan hangat, sementara musik jaz pelan mengalir dari pengeras suara kecil yang tidak kuingat pernah kupasang.

“Selamat datang kembali, Mas,” sambut Danil dengan senyum yang tidak seformal biasanya. “Bagaimana Yogyakarta?”. Aku terdiam sejenak, menatap matanya mencari jejak kebohongan. Bagaimana mungkin dia tahu? Padahal seingatku, aku pergi meninggalkan Kediri tanpa meninggalkan sepatah kata pun pada siapa pun .

“Kamu berbicara dengan Ani?” tanyaku penuh selidik. Danil mengernyit, terlihat bingung,

“Ani? Oh, pelanggan dengan rambut sangat pendek itu? Dia tidak datang lagi sejak Mas pergi”.

Aku melangkah ke lantai atas kedai, tempat tinggalku yang kini terasa terlalu sunyi tanpa suara ketikan keyboard Tata di sudut ruangan. Di atas lemari dapur yang berdebu, aku menemukan cangkir retak itu—benda yang selama ini luput dari perhatianku karena aku terlalu fokus pada gelas-gelas ukur laboratorium yang bersih. Retakan itu membentuk pola jaring laba-laba yang rumit, seolah menyimpan sejarah setiap tawa dan pertengkaran yang pernah kami lalui di atas meja ini . Saat kuangkat, aku menemukan sebuah koordinat GPS dan tanggal 17 November tertempel di bawahnya. Angka itu tidak lagi kurasakan sebagai tekanan, melainkan sebuah kompas yang menunjuk pada ketidakpastian yang indah.

Aku mulai mengubah cara menjalankan kedaiku. Timbangan digital dengan presisi 0,1 gram yang dulu kupuja kini terkunci rapat di dalam laci gelap. Aku belajar untuk mendengarkan suara biji kopi saat digiling, merasakan suhu air hanya dengan uap yang menyentuh pipiku, dan menuangkan air dengan gerakan tangan yang mengikuti irama napas, bukan detak jam digital. Anehnya, pelanggan justru semakin memadati kedai. Mereka tidak lagi datang untuk mencari secangkir kafein yang terukur, tapi untuk merasakan karakter rasa yang kini lebih berani dan jujur . Pak Hari, pria yang selalu membaca novel terjemahan itu, berkomentar sambil tersenyum, “Kopimu sekarang seperti jaz Miles Davis. Kamu tidak tahu ke mana arahnya, tapi kamu menikmati perjalanannya”.

Setiap malam, mimpi-mimpiku tentang Tata menjadi semakin nyata. Dalam satu mimpi, kami berdiri di pantai dengan laut berwarna hijau zamrud yang mustahil. Tata melukis di atas pasir dengan ujung jemarinya, membuat pola-pola yang langsung dihapus oleh ombak hanya dalam hitungan detik.

“Seni sejati adalah yang tidak bertahan,” bisiknya di antara deru angin. “Seperti secangkir kopi yang bagaimanapun sempurnanya, pada akhirnya akan dingin dan habis”.

17 November tiba tanpa peringatan atau guntur yang dramatis. Galeri Pembatas Mimpi ternyata sebuah bangunan kecil di pinggiran Yogyakarta yang tampak begitu bersahaja dari luar. Pukul 17.17 tepat, aku berdiri di depan pintunya dengan cangkir retak di tangan. Pintu kayu itu terbuka tanpa suara, seolah-olah gedung itu sendiri sedang menarik napas panjang untuk menyambutku.

Interior galeri itu secara ajaib jauh lebih luas dari tampak luarnya, dengan dinding-dinding putih tinggi yang memamerkan seluruh perjalanan hidupku melalui kuas Tata. Di tengah ruangan, Tata berdiri dengan rambut panjang yang berkilau di bawah lampu galeri. Dia tampak seperti versi dirinya yang paling murni, mengenakan gaun putih sederhana dengan liontin berbentuk cangkir kopi yang menggantung di lehernya.

“Kamu datang,” katanya lembut sambil mengambil cangkir retak dariku. “Koordinatnya berubah, Ray. Itu artinya kamu sudah siap untuk melihat realitas”. Ia mengeluarkan sebuah kunci kecil yang dingin saat ia letakkan di telapak tanganku. Tata menunjuk ke sebuah pintu di belakang galeri yang memancarkan cahaya putih yang lembut. “Pintu itu mengarah ke mana pun yang kau inginkan. Ke realitas di mana aku tidak pernah sakit, atau ke realitas di mana kita menghadapi semuanya bersama dengan segala ketidakpastiannya”.

Aku menatap lukisan-lukisan di sekelilingku—ada versi di mana kami menua bersama, dan ada versi di mana aku menyeduh kopi sendirian di masa tua.

“Bagaimana aku tahu mana yang benar?” tanyaku dengan keraguan yang tersisa . Tata mendekat, mencium bibirku selembut kelopak bunga, dan membisikkan pesan terakhirnya:

“Berhentilah menimbang kehidupan dalam gram, Ray”.

Di sebuah sudut kedai di Kediri, Ray kini duduk memandang hujan yang turun membasahi kaca jendela. Ia tidak lagi menghitung kecepatan tetesannya atau mengukur suhu kopi di hadapannya yang ia seduh hanya dengan insting dan cinta . Jari manisnya dihiasi cincin perak dengan ukiran cangkir retak, kembaran dengan cincin yang melingkar di jari Tata yang duduk di depannya. Rambut Tata mulai tumbuh kembali setelah kemoterapi terakhirnya, sebuah tanda kehidupan yang sedang berjuang di tengah ketidakpastian.

“Apakah kita memilih realitas yang tepat?” tanya Ray sambil menatap Gunung Wilis yang tampak berbeda di bawah cahaya senja. Tata menggenggam tangannya erat, merasakan denyut nadi masing-masing yang tidak lagi terikat oleh angka.

“Tidak ada yang tepat atau salah,” jawabnya tenang. “Hanya ada pilihan dan konsekuensinya”. Di luar, senja memudar menjadi warna tembaga, menutup hari dengan sebuah kesempurnaan yang tidak perlu diukur.

...

TAMAT

Dibaca ... kali
0