SHUTTER
SHUTTER
by L.T. Oktonawa
BAB 1: Bargain
Pasar loak elektronik. Lantai dasar.
Reno melangkah cepat, sepatu boots-nya berdecit di
ubin retak. Dia tidak melihat ke kiri-kanan, mengabaikan pedagang lensa jamuran
yang memanggil-manggil. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Sony A7III—istri, nyawa, sekaligus mesin uangnya—tewas pagi
ini. Shutter-nya macet total. Besok ada deadline katalog, dan dia
butuh senjata pengganti. Sekarang.
Dia berbelok ke kios pojok yang suram. Di balik etalase kaca
yang buram oleh sidik jari berminyak, seorang pria paruh baya sedang melamun
menatap kipas angin.
"Bang Yanto," panggil Reno, menepuk kaca etalase.
Pria itu tersentak. Matanya yang cekung dan berkantung tebal
mengerjap panik, seolah baru dibangunkan dari mimpi buruk.
"Eh... Reno. Tumben sore-sore, Ren. Cari apa?"
"Kamera gue jebol, Bang. Ada stok full frame
murah nggak? Nikon D700 atau apa kek yang ready pake."
Yanto menggaruk kepalanya yang berminyak. "Waduh,
kosong, Ren. Adanya mirrorless pemula semua. Itu tuh, Fuji seri
lama."
Reno mendengus kecewa. Matanya menyapu isi etalase dengan
tatapan meremehkan. Sampah plastik. Sensor kecil. Mainan anak TikTok.
Saat itulah matanya menangkap sesuatu.
Di sudut paling belakang etalase, terhimpit di antara
tumpukan handycam rongsok, ada sebongkah logam hitam yang menyerap
cahaya. Besar. Tanpa flash bawaan. Prismanya menonjol tajam dan agresif.
"Itu apaan nyempil di belakang, Bang?" tunjuk
Reno.
Yanto menoleh. Wajahnya berubah aneh. Ragu.
"Oh... itu. Canon 5D Classic. Seri pertama."
Jantung Reno melompat satu ketukan. Sang Legenda. Sensor
purba yang warnanya magis.
"Keluarin, Bang. Gue mau liat."
Yanto tampak enggan. Gerakannya lambat saat membuka kunci
etalase. Dia mengambil kamera itu bukan pada grip-nya, melainkan
memegang ujung lensa dengan dua jari, seolah benda itu menjijikkan atau panas.
Brak.
Benda itu mendarat di meja kaca.
Reno langsung menyambarnya. Berat. Dingin. Bodi magnesium
alloy yang kokoh, penuh baret halus tanda jam terbang tinggi. Ini bukan
kamera, ini tank tempur.
"Gila... masih mulus mesinnya?" Reno mengintip viewfinder.
Gelap, tapi optiknya bersih. Cermin di dalamnya utuh.
"Jujur aja, Ren," suara Yanto memelan, dia melirik
kiri-kanan. "Itu barang titipan orang. Katanya punya kakaknya. Udah dua
tahun nganggur di lemari, nggak pernah disentuh."
"Dua tahun? Jamuran dong?"
"Nah itu. Orangnya minta tolong dicek sama yang paham.
Gue belum sempet bongkar dalemannya. Takut ada... ya, tau sendiri barang
lama."
Reno memutar-mutar bodi kamera. Jarinya berhenti di tali strap
bawaan yang masih terpasang. Kain nilon itu kaku dan apek. Di bagian dalam,
yang menempel ke leher, ada noda kerak berwarna cokelat kemerahan yang
mengering.
"Ini apaan, Bang? Sambel?" Reno mengikis noda itu
dengan kuku. Baunya logam. Amis samar.
Yanto memalingkan wajah, sibuk mengelap keringat di dahi
padahal AC sentral mati. "Kena cat kali, Ren. Atau oli. Namanya juga
barang gudang."
"Berapa?"
"Tiga setengah. Sama lensa 50mm fix-nya."
Reno tertawa sinis. "Mahal amat buat barang judi, Bang.
Kalau sensornya dead pixel gimana? Shutter-nya lemes gimana? Dua
tahun nggak dipanasin."
"Yaudah, tawar berapa." Yanto terdengar putus asa.
Kakinya mengetuk-ngetuk lantai gelisah.
"Satu setengah. Take it or leave it. Gue butuh
sekarang."
Itu harga sadis. Penipuan legal.
Tapi Yanto tidak mendebat. Dia menatap kamera itu, lalu
menatap Reno dengan tatapan aneh—campuran antara kasihan dan kelegaan.
"Bawa, Ren. Angkut. Tapi kalau ada apa-apa, jangan
balikin ke gue ya. Putus transaksi."
Reno menyeringai lebar. "Beres, Bang. Lo emang temen
gue paling asik."
Uang berpindah tangan. Yanto memasukkan lembaran merah itu
ke saku celana dengan gerakan menyambar, tanpa menghitung.
"Nggak ada plastik, Ren. Kalungin aja."
"Santai."
Reno mengalungkan kamera itu. Tali strap yang kaku
langsung bergesekan dengan kulit leher belakangnya. Kasar. Gatal. Seperti
dilingkari kawat berkarat.
Reno melenggang keluar dari pasar loak. Senyum miring
tercetak di wajahnya. Dia baru saja menang telak. Di belakangnya, Yanto
buru-buru menarik rolling door kiosnya, menutup toko padahal matahari
belum sepenuhnya tenggelam.
***
Langit Jakarta sore itu memar. Ungu lebam bercampur oranye
polusi.
Reno berdiri di atas JPO. Angin kencang menampar wajahnya,
membawa debu jalanan yang pedih di mata. Dia tidak peduli. Viewfinder
optik membingkai dunia di bawahnya.
Dia membidik. Fokus.
CTAK-GLEG.
Suara shutter-nya brutal. Suara besi menghantam besi.
Getarannya merambat dari telapak tangan sampai ke siku Reno.
"Sadis," gumam Reno kagum. "Ini baru
kamera."
Dia memotret lagi. Ojol yang melamun. Karyawan SCBD yang
lari mengejar busway. Wajah-wajah lelah kota ini terlihat lebih artistik
lewat sensor tua ini. Grain-nya kasar, warnanya pucat tapi berkarakter.
Cahaya makin tipis. Lampu-lampu jalan mulai menyala kuning.
Reno turun ke trotoar. Dia mencari satu frame penutup sebelum pulang.
Sebuah truk tronton tua berhenti di lampu merah. Asap
knalpot hitam mengepul, menyelimuti trotoar. Di kolong truk, di celah antara
ban ganda belakang dan aspal, ada kegelapan yang pekat. Tekstur ban yang
gersang. Cahaya merah lampu rem yang memantul di aspal berminyak. Kontras yang
sempurna.
Reno berjongkok. Membidik kolong truk. Fokus manual. Dia
memutar cincin lensa. Di dalam jendela bidik yang sempit, bayangan hitam itu
terlihat tajam.
Zzt.
Tiba-tiba cincin lensa berputar sendiri di tangan Reno.
Sedikit. Melawan jemarinya.
Reno mengernyit. "Mekaniknya kendor?"
Dia memutar paksa fokusnya kembali. Mengunci tekstur ban.
Tapi tepat sebelum telunjuknya menekan tombol, matanya menangkap sesuatu di
pojok viewfinder.
Di celah sempit antara ban dan aspal. Ada tangan.
Pucat, kurus, dengan jari-jari yang menekuk ke arah yang
salah. Tangan itu seolah sedang mencengkeram aspal, mencoba menarik tubuh yang
tak terlihat keluar dari kolong.
Reno menyentak kamera turun dari wajahnya. Melihat langsung
dengan mata telanjang.
Kosong.
Hanya ada ban kotor dan aspal.
"Kurang kopi gue," desis Reno. Dia menggosok
matanya. Efek begadang dan debu pasar tadi pasti bikin halusinasi. Truk itu
menderu, melaju pergi meninggalkan asap tebal.
Reno mengangkat kamera lagi. Masa bodoh. Momennya hilang,
tapi jejaknya masih ada. Dia memotret jalanan kosong bekas truk tadi.
CTAK-GLEG.
Dia melihat layar LCD. Fotonya gelap, moody. Ada
nuansa mencekam yang entah datang dari mana. Leher belakangnya makin perih.
Reno menggaruknya kasar. Ujung jarinya basah dan lengket.
Dia melihat jarinya di bawah lampu jalan. Merah. Darah
segar?
"Bangsat, luntur," umpat Reno. Dia mengusap
jarinya ke celana jeans. "Si Yanto jualan barang dekil amat. Besok
gue ganti tali sialan ini."
***
Kamar Reno hening dan dingin. AC menyala di suhu 18 derajat,
tapi Reno berkeringat tipis. Dia duduk di depan monitor 4K-nya. Kabel data
terhubung.
Importing Files...
Dia membuka Lightroom. Jemarinya menari lincah,
merasa seperti maestro. Dia mengedit foto jalanan tadi. Di layar resolusi
tinggi, detail aspal itu terlihat gila.
"Gokil. Satu setengah juta dapet 'jiwa' kayak
gini."
Reno melakukan zoom 100%. Memeriksa ketajaman.
Matanya menyisir ke pojok kiri bawah foto. Area gelap bekas ban truk tadi.
Ada glitch.
Pikselnya pecah. Warnanya bukan hitam, tapi campuran merah
marun dan motif kotak-kotak flanel yang samar. Reno memperbesar lagi. 200%.
Bentuknya abstrak tapi... mengganggu. Seperti sobekan kain kemeja. Dan di balik
kain itu, ada warna putih tulang yang mencuat tidak wajar.
"Sensor tua, hot pixel-nya ngaco," Reno
mendecih, berusaha meyakinkan diri sendiri. Logikanya menolak hal lain.
Estetika adalah segalanya.
Kursornya menyambar Crop Tool. Memotong bagian pojok
kiri bawah yang glitch itu.
Crop. Hilang. Bersih.
Sempurna. Bagi Reno, cacat visual tidak layak tampil.
Reno mengekspor foto itu. Mengirim ke HP. Upload Instagram
Story & Feed.
Caption: "New gear, old soul. 5D Classic magic.
#streetphotography #jakarta #grainisgood"
Post.
Reno meletakkan HP di meja nakas. Notifikasi like
pertama langsung masuk dalam detik ketiga. Dia tersenyum puas.
Dia melepas kamera dari lehernya. Kulit lehernya merah
meradang, membentuk garis melingkar yang lecet, persis seperti bekas jeratan
tali tambang. Dia menaruh kamera itu di rak pajangan, di sebelah lensa-lensa
mahalnya yang lain. Lensa 50mm itu menghadap lurus ke arah kasur Reno. Seperti
mata satu yang tidak bisa berkedip.
"Besok gue bersihin lo," gumam Reno, mematikan
lampu kamar.
Reno memejamkan mata, membiarkan kelelahan menariknya tidur.
Dia tidak sadar bahwa di dalam kegelapan kamar yang sunyi itu, dia tidak
sendirian.
Dari arah rak pajangan, terdengar suara mekanik yang sangat
halus.
Zzt.
Lensa kamera itu berputar perlahan. Mengubah titik fokus.
Dari dinding kosong... mengunci ke arah dada Reno yang naik turun bernapas.
...Cekrek.
Suaranya lirih, tapi di ruangan yang sunyi itu, terdengar
seperti vonis mati.
...
Bab 2: File
Logika Reno sederhana: kalau ada bug, restart.
Kalau ada virus, format. Kalau ada konten yang bikin masalah, hapus.
Jari telunjuknya menekan opsi Delete di
Instagram. Konfirmasi: Are you sure? Yes.
Foto jalanan aspal itu hilang dari feed. Angka
notifikasi berhenti berkedip. Reno menghela napas panjang, lalu melempar
punggungnya ke sandaran kursi kerja Herman Miller-nya. Masalah selesai. Netizen
punya ingatan pendek. Besok juga mereka lupa.
Dia memencet F5 di browser laptop. Sekadar
memastikan.
Refresh.
Layar berkedip putih sebentar.
Foto itu ada lagi.
Di posisi paling atas. Dengan jumlah like yang sama.
Komentar yang sama.
Reno menegakkan punggung. "Server error,"
gumamnya, mencoba rasional. "Cache belum ke-clear."
Dia menyambar HP. Refresh aplikasi.
Foto itu masih di sana. Tapi kali ini, caption-nya
berubah. Bukan lagi "New gear, old soul..." Teks itu berganti
menjadi deretan angka biner yang acak, diselingi satu kalimat yang ditulis
dengan huruf kapital:
JANGAN DIHAPUS. AKU BELUM SELESAI CERITA.
Reno melempar HP-nya ke meja. Bunyi tak keras
terdengar saat casing membentur kayu. Kulitnya meremang. Bukan dingin
AC. Ini dingin yang menusuk dari dalam tulang.
Dia menatap kamera Canon 5D di rak pajangan. Lampu LCD
oranye itu sudah mati. Tapi lensanya... lensa itu seolah sedang menatapnya
dengan sabar.
Reno butuh jawaban logis. Dia orang teknis. Hantu tidak bisa
meretas server Meta. Pasti ada malware di kartu memori yang dia
colok tadi. Script jahat yang membajak akunnya.
Reno menyambar kamera itu kasar. Menekan tombol eject
di samping slot memori. Kartu CF (Compact Flash) itu melompat keluar.
Panas.
Kartu memori itu panas sekali di telapak tangan Reno, seolah
baru saja dipanggang di atas api. Reno meniupnya sebentar, lalu menyolokkannya
ke card reader eksternal.
Layar laptop berkedip. Jendela Explorer terbuka
otomatis.
Biasanya, struktur folder kamera Canon itu standar: DCIM
> 100EOS5D. Tapi kali ini, folder itu tidak ada. Hanya ada satu folder
dengan nama yang ditulis dengan karakter aneh, seolah keyboard rusak.
Namun bisa dibaca:
L4ST_RIDE
Reno menelan ludah. Kursor mouse-nya gemetar di
layar.
"Isengin gue lo, Yan? Sumpah nggak lucu," desisnya
pada ruangan kosong. Dia berusaha yakin Yanto sengaja menaruh file prank.
Klik dua kali.
Folder terbuka.
Isinya empat file foto. Format JPEG. Ukuran file
besar. Tanggal pengambilan: 12 Mei 2022. Dua tahun lalu. Jam: 23:45.
Reno membuka file pertama. IMG_9996.JPG.
Viewer foto terbuka. Darah Reno surut dari wajahnya.
Itu foto selfie. Diambil dengan angle rendah,
kamera ditaruh di atas speedometer motor. Seorang gadis muda. Memakai
kemeja flanel merah hitam. Helm half-face putih yang kacanya dibuka.
Wajahnya basah. Air mata membanjiri pipi, melunturkan bedak
tipisnya. Matanya merah, bengkak, menatap lensa dengan tatapan yang
menghancurkan hati. Tatapan orang yang sudah tidak punya harapan.
Di latar belakang, terlihat lampu-lampu jalan yang blur
menjadi garis panjang. Motor sedang melaju kencang.
Reno menekan panah kanan. File kedua. IMG_9997.JPG.
Masih angle yang sama. Tapi ekspresinya berubah.
Gadis itu—Tari—sedang tertawa. Bukan tawa bahagia. Mulutnya terbuka lebar,
memperlihatkan gigi yang rapi, tapi matanya melotot kosong. Dia menjerit. Urat
lehernya menonjol. Rambutnya berantakan diterpa angin malam. Jarum speedometer
di bawah wajahnya menunjuk angka 100 km/jam.
Reno merasa mual. Dia kenal jalanan di latar belakang itu. Tempat
dia memotret tadi sore.
File ketiga. IMG_9998.JPG.
Gambar berguncang (motion blur). Tangan Tari tidak
ada di setang motor. Dia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke samping.
Seperti pose di film Titanic. Tapi ini bukan romantis. Ini penyerahan
diri.
Di pantulan kaca spion motor, terlihat dua titik cahaya
besar yang mendekat dari arah depan. Cahaya putih menyilaukan. Lampu truk.
Reno ingin menutup laptopnya. Dia tidak mau melihat file
terakhir. Instingnya berteriak untuk berhenti. Tapi jarinya kaku, justru
menekan panah kanan.
File keempat. IMG_9999.JPG.
Frame terakhir. Shutter speed tinggi
membekukan momen kehancuran.
Semuanya putih. Overexposure. Cahaya lampu truk
memenuhi 90% frame. Tapi di sisa 10% di bagian bawah... terlihat
benturan itu.
Setang motor yang bengkok. Pecahan kaca spion yang melayang
di udara. Dan sebagian wajah Tari yang terhantam besi pelindung truk.
Rahangnya... bergeser. Kulit pipinya robek seketika. Foto itu tajam.
Mengerikan.
Reno menutup laptopnya dengan keras.
BRAK!
Napasnya putus-putus. Dia mundur dari meja kerja, kakinya
menendang kursi hingga terguling.
Itu bukan kecelakaan. Itu bunuh diri yang direkam. Tari
sengaja menabrakkan diri ke truk itu. Dia menjadikan kamera ini sebagai saksi
mata tunggal. Kotak hitam penerbangannya menuju neraka.
"Gila..." bisik Reno. "Sakit jiwa."
Tiba-tiba, dia sadar sesuatu. Hening. Suara bising fan
laptop mati. Suara AC mati. Suara lalu lintas Jakarta di luar jendela
apartemennya lenyap. Kesunyian total. Seperti di dalam ruang hampa udara.
Lalu, bau itu datang lagi. Lebih kuat.
Bau bensin yang tumpah. Bau karet hangus. Bau daging yang
terpanggang aspal panas.
Dan suara.
Dari speaker laptop yang tertutup. Dari dalam mesin
yang seharusnya sleep. Terdengar suara isak tangis. Kecil. Lirih.
"Hiks... sakit, Ren..."
Reno menatap laptopnya horor. Suara itu berubah. Menjadi
tawa cekikikan.
"Tapi seru. Kamu mau coba?"
Layar laptop yang tertutup itu menyala dari celah-celahnya.
Cahaya putih terang memancar keluar.
Reno menyambar kartu memori yang masih tercolok di card
reader. Dia mencabutnya paksa tanpa eject. Panasnya membakar kulit
jari. Reno melempar kartu itu ke lantai.
Dia menginjaknya dengan boots.
Krek.
Plastik pecah. Chip patah.
Reno menginjaknya lagi. Dan lagi. Sampai kartu memori itu
hancur menjadi serpihan plastik hitam tak berbentuk.
"Mati lo! Mati!" teriak Reno.
Hening kembali. Cahaya laptop mati. Bau bensin memudar
perlahan.
Reno berdiri terengah-engah di tengah kamar. Dia menang. Dia
sudah menghancurkan sumbernya. File itu hilang. Memori itu hancur.
Dia mengambil HP-nya untuk memastikan. Membuka galeri.
Kosong. Membuka Instagram. Foto itu sudah hilang. Akunnya bersih.
Reno jatuh terduduk di lantai. Lega. Kakinya lemas. Keringat
dingin mengucur deras.
"Cuma teknologi," gumamnya, mencoba meyakinkan
diri sendiri. "Cuma error."
Dia merangkak naik ke kasur. Dia butuh tidur. Dia butuh
melupakan wajah hancur di foto terakhir itu. Reno memejamkan mata. Satu menit
berlalu. Dia hampir terlelap.
Cekrek.
Suara shutter itu. Sangat dekat. Tepat di samping
telinganya. Di atas bantal.
Reno membuka mata.
Di sebelahnya, di atas bantal kosong... Kamera Canon 5D itu
duduk manis. Padahal tadi ada di rak pajangan.
Dan di layar LCD kecil bagian atas kamera, angka frame
counter-nya berkedip-kedip merah.
Angka itu bukan lagi sisa foto yang bisa diambil. Angka itu
menghitung mundur.
05... 04... 03...
...
Bab 3: Teror
Kamera itu tidak bisa dibuang.
Reno sudah mencobanya tiga kali.
Pertama, dia memasukannya ke tas plastik hitam, mengikat
simpul mati, lalu melemparnya ke trash chute di lorong apartemen. Dia
mendengar bunyi gedebuk berat saat benda itu jatuh ke bak penampungan di
lantai dasar. Dia kembali ke kamar, mengunci pintu, menyalakan TV volume
maksimal. Lima menit kemudian, dia ke kamar mandi. Saat keluar, kamera itu
sudah duduk manis di atas meja makan. Plastiknya hilang. Lensanya bersih tanpa
noda sampah.
Kedua, dia membawa kamera itu turun ke basement. Dia
menyelipkannya di bagasi mobil tetangga yang tidak dikunci. Saat dia naik lift
kembali ke unitnya, kamera itu sudah ada di dalam lift bersamanya.
Tergantung di handrail besi. Berayun pelan seirama dengan dengung mesin lift.
Ketiga, dia mencoba menghancurkannya. Dia mengambil palu.
Dia memukul lensa itu sekuat tenaga.
PRAK!
Kaca pecah? Tidak. Palu itu yang mental. Gagang kayunya
patah di tangan Reno, membuat telapak tangannya lecet. Kamera itu tidak
tergores sedikit pun. Cat hitamnya justru makin mengkilap, seolah menyerap
kekerasan yang diberikan Reno.
Sekarang, Reno duduk di sudut sofa. Jauh dari meja makan
tempat kamera itu bertahta.
Dia gemetar. Bukan karena dingin AC yang sudah dimatikan,
tapi karena apartemen studio yang biasanya terasa homey dan privat ini,
sekarang terasa seperti kotak kaca di kebun binatang.
Dan dia adalah tontonan.
Dia butuh suara manusia. Reno mengambil HP-nya. Menelepon
Andre, asisten fotonya.
Video call.
"Halo, Ren?" Wajah Andre muncul di layar. Kusut.
Baru bangun tidur. "Tumben video call. Kenapa? Cancel job
besok?"
"Nd... Dre..." Suara Reno tercekat. Lidahnya kelu.
"Gue butuh lo ke sini. Sekarang."
Andre mengernyit. Dia mendekatkan wajah ke kamera HP-nya.
"Lo kenapa? Pucet banget. Sakit?"
"Ada yang... ada yang aneh di sini. Gue nggak bisa
jelasin. Lo ke sini aja."
"Yaelah, parno amat. Lo abis nonton horor?"
Andre tertawa. Dia meraih gelas kopi di mejanya.
Tiba-tiba, tawa Andre berhenti mendadak. Gelas kopi di
tangannya menggantung di udara. Mata Andre tidak melihat ke wajah Reno. Dia
melihat ke belakang Reno. Ke arah punggung Reno.
"Ren..." suara Andre berubah. Rendah. Takut.
"Itu siapa?"
Reno membeku. Bulu kuduk di lehernya berdiri serentak.
"Siapa apanya?" bisik Reno.
"Di belakang lo. Cewek."
Jantung Reno seolah berhenti berdetak.
"Pake baju flanel..." Andre mulai gemetar. HP-nya
goyang. "Ren... mukanya... astaga Tuhan... mukanya kenapa itu?!"
"Jangan bercanda, Dre!"
"LARI REN! DIA MELUK LO!"
Andre berteriak histeris. Layar HP Reno mati. Sambungan
terputus.
Reno tidak berani menoleh. Tapi dia merasakannya.
Berat.
Ada beban berat yang tiba-tiba menekan bahunya. Dingin.
Seperti ada balok es yang diletakkan di punggungnya.
Dan baunya. Bau bensin oplosan yang menyengat. Bau ban karet
yang terbakar aspal. Bau darah anyir yang kental. Bau kematian di jalan raya.
Reno merasakan dua lengan dingin melingkar di lehernya.
Lengan yang kurus, tulang berbalut kulit. Kain flanel kasar menggesek pipinya.
Lengan itu memeluknya erat. Posesif.
"Reno..."
Bisikan itu bukan di telinga. Bisikan itu bergema langsung
di dalam tempurung kepala.
"Sepi ya di sini..."
Reno memejamkan mata rapat-rapat. "Pergi! Ini bukan
salah gue! Gue cuma beli kamera!"
"Salahmu..." suara itu terkekeh. Suara tawa yang
basah, seperti orang berkumur darah. "Kamu yang buka mataku. Kamu yang
lihat aku."
Pelukan itu makin erat. Tulang selangka Reno terasa nyeri.
Dia sesak napas. Reno memberanikan diri membuka mata. Dia melihat ke cermin
besar di dinding seberang sofa.
Di cermin itu... dia sendirian. Tidak ada siapa-siapa di
belakangnya. Tidak ada tangan yang memeluknya.
Tapi di cermin itu, dia melihat bajunya sendiri. Kaos putih
mahalnya. Di bagian bahu dan dada, kain putih itu basah. Merah. Darah merembes
entah dari mana, mencetak bentuk pelukan tangan yang tak terlihat.
Reno menjerit. Dia meronta, melepaskan diri dari pelukan
hantu itu. Dia jatuh terguling dari sofa. Menabrak meja kopi. Gelas pecah.
Dia merangkak mundur. Napasnya memburu.
Di atas meja makan, kamera Canon 5D itu bereaksi. Layar
LCD-nya menyala terang. Speaker kecil di samping bodi—yang seharusnya
cuma buat bunyi beep fokus—mengeluarkan suara statis kresek-kresek.
Lalu suara yang jelas.
"Ayo jalan-jalan, Ren..."
"Aku kangen motoran..."
"Ngebut yuk..."
Reno menutup telinganya. "Nggak! Gue nggak mau
mati!"
Kamera itu bergetar. Lensa 50mm-nya berputar zoom in-out
dengan agresif. Zzt-zzt. Zzt-zzt. Seperti napas mesin yang marah.
"Bawa aku..." suara itu berubah menjadi geraman
rendah. "Atau aku yang bawa kamu di sini selamanya..."
Lampu apartemen berkedip. Pet. Pet.
Setiap kali lampu mati, Reno melihatnya. Dalam kegelapan
sepersekian detik itu, Tari ada di sana. Berdiri di sudut ruangan. Berdiri di
depan TV. Berdiri di samping kulkas.
Makin lama makin dekat.
Wajahnya yang hancur itu tersenyum lebar, lidahnya menjulur
panjang menyentuh lantai.
Reno terpojok. Dia sadar, apartemen ini sudah menjadi peti
mati. Hantu itu menginginkan jalan raya. Jika Reno tetap di sini, dia akan mati
diremukkan di ruang tamu ini. Satu-satunya kesempatan adalah membawa kamera itu
keluar. Membuangnya di jalan tol. Menghancurkannya di aspal.
"Oke," desis Reno dengan mata liar. Dia berdiri.
Kakinya goyah. "Lo mau jalan-jalan? Gue ajak lo jalan-jalan. Jalan
terakhir lo."
Dia menyambar tas punggungnya. Menyambar kamera itu dengan
gerakan cepat—rasanya panas, seperti memegang bara api. Dia memasukkannya paksa
ke dalam tas. Menutup ritsleting.
Reno menyambar kunci motor dan helm full-face.
Dia berlari keluar unit. Membanting pintu.
Dia tidak menunggu lift. Dia lari lewat tangga
darurat. Turun dua puluh lantai. Suara langkah kakinya bergema di tangga beton.
Tapi dia tidak sendirian.
Di belakangnya, terdengar suara langkah lain. Bukan langkah
sepatu.
Tapi suara tulang patah yang diseret. Krek... srek...
krek... srek...
Dan suara senandung lirih yang menggema di lorong tangga.
"Naik kereta api... tut... tut... tut..."
Reno melompati anak tangga terakhir. Menendang pintu darurat
basement. Udara parkiran yang pengap menyambutnya.
Dia lari ke motor sport-nya. Kawasaki Ninja hitam.
Tangan gemetar memasukkan kunci. Mesin menderu. Knalpot bising memecah
keheningan basement.
Reno memakai helm. Menurunkan kaca visor.
Di dalam tas punggungnya, kamera itu terasa berat sekali.
Seberat mayat manusia dewasa yang membebani tulang punggungnya.
Reno tancap gas. Ban berdecit.
Dia melesat keluar dari gedung apartemen. Menuju jalan raya
Jakarta yang mulai sepi, tanpa sadar bahwa dia baru saja menuruti permintaan
terakhir sang arwah.
...
Bab 4: Blind Spot
Jalanan aspal mengalir di bawah ban motor seperti sungai
minyak hitam.
Speedometer: 80... 90... 100 km/jam.
Reno membelah angin malam. Kawasaki Ninja-nya menjerit di
gigi empat. Dia tidak peduli batas kecepatan. Dia tidak peduli lampu merah. Di
punggungnya, tas kamera itu terasa semakin berat. Bukan berat magnesium
alloy. Berat dosa. Berat mayat.
Setiap kali motor berguncang menghantam lubang, Reno merasa
ada yang bergerak di dalam tas. Dug. Dug.
Seperti kepala yang membentur tulang punggungnya. Minta
keluar.
"Sabar," desis Reno di balik helm full-face-nya.
Matanya liar menatap jalanan sepi. "Gue buang lo di laut. Biar karatan.
Biar mampus."
Dia melintasi jalan layang non-tol. Angin samping kencang
sekali. Motor goyang.
Tiba-tiba.
Gudubrak.
Motor oleng parah. Bukan karena angin. Suspensi belakang
amblas. Shockbreaker turun drastis sampai mentok. Besi sasis
motor beradu dengan aspal, memantik percikan api yang memancar di bawah kaki
Reno.
Motor itu mendadak berat. Sangat berat. Seolah ada benda
seberat dua kuintal yang baru saja loncat duduk di jok belakang.
Reno menahan setang sekuat tenaga agar tidak jatuh. Otot
lengannya menjerit. Motor melambat paksa karena beban itu. Keringat dingin
menetes masuk ke mata. Perih.
Reno tahu aturannya: Jangan melihat spion. Kalau lo
nengok, lo kalah.
Tapi manusia adalah budak rasa ingin tahu.
Mata Reno melirik ke kanan. Ke kaca spion kecil yang
bergetar hebat.
Di sana. Di dalam cermin cembung itu.
Ada dagu.
Dagu yang tidak utuh. Tulang rahang bawahnya hilang,
menyisakan daging merah bergerigi yang terkewer-kewer ditiup angin kencang. Di
atasnya, hidung yang rata dengan pipi. Dan mata. Satu mata hilang, lubang gelap
yang mengucurkan cairan hitam. Satu mata lagi melotot, putih semua, menatap
Reno dengan tatapan rindu yang sakit.
Kulit wajahnya bukan kulit. Itu aspal. Kerikil hitam
tertanam dalam di daging pipinya.
Tari.
Dia duduk di belakang. Membonceng. Rambutnya yang kaku oleh
darah kering berkibar, memukul-mukul helm Reno. Tak. Tak. Tak.
"Ngebut lagi, Ren..."
Suaranya tidak masuk lewat telinga. Suara itu merambat lewat
tulang punggung. Getaran dari dada Tari yang menempel di punggung Reno.
"Ayo... seratus lagi..."
Reno menjerit. "TURUN! TURUN LO SETAN!"
Dia menggoyangkan motor. Zig-zag. Berusaha menjatuhkan
penumpang gaibnya. Tari tidak jatuh. Dia justru merapatkan tubuhnya.
Tangan Tari melingkar ke depan. Tangan pucat dengan
jari-jari yang patah dan bengkok ke arah yang salah. Dia memeluk pinggang Reno.
Erat. Makin erat. Reno merasa tulang rusuknya ditekan besi
catut.
Krak.
Satu rusuk patah. Menusuk paru-paru.
"ARGH!"
Reno tersedak. Darah amis naik ke tenggorokan. Sakitnya
nyata. Fisik. Brutal.
"Jangan rem..." bisik Tari. Lidahnya yang panjang
menjulur keluar. Menjilat kaca helm Reno dari samping. Meninggalkan jejak
lendir darah kental yang menghalangi pandangan. "Tabrakin. Biar
sama."
Reno buta. Kaca helmnya merah. Napasnya habis. Dia
kehilangan kendali. Setang motor lari ke kanan. Masuk jalur lawan.
Dari depan, cahaya putih meledak. Terang. Menyilaukan.
Seperti matahari terbit di tengah malam.
Klakson truk tronton menjerit panjang. TIIIIIIIN!
Reno tidak sempat menginjak rem. Di detik terakhir, dia
hanya sempat melihat pantulan di spion. Tari tersenyum lebar dengan sisa
mulutnya yang robek.
BRAAAK!
Bunyi logam meremuk daging. Dunia berputar. Lalu mati.
***
Gelap.
Lalu sakit. Lalu dingin.
Aspal itu kasar di pipi. Rasanya asin dan berpasir. Reno
mencoba membuka mata. Hanya mata kiri yang bisa. Mata kanannya gelap, tertutup
pecahan visor helm yang menancap.
Dia tidak bisa bergerak. Tubuhnya terasa aneh. Ringan tapi
mati rasa. Kaki kanannya ada di depan wajahnya. Menekuk ke arah yang salah.
Tumit menyentuh hidung. Patah tebu. Tangannya terpelintir di belakang punggung
dalam sudut mustahil.
Dia berbaring di tengah jalan. Seperti boneka rusak yang
dibuang anak kecil.
Di depannya, lima meter dari tempatnya tergeletak... Tas
punggungnya robek terbelah dua.
Kamera Canon 5D itu terlempar keluar. Menggelinding pelan.
Berhenti.
Posisi sempurna. Duduk tegak di atas aspal.
Bodi magnesium-nya utuh. Hitam. Mengkilap.
Tidak ada lecet sedikit pun. Lensa 50mm-nya mengarah lurus ke wajah Reno.
Reno ingin berteriak minta tolong. Tapi dia tidak bisa
membuka mulut. Rahang bawahnya hilang. Hancur dihantam bumper truk.
Darah menggenang di sekitar kepalanya. Hangat.
Lampu truk yang menabraknya sudah mati. Sopir truk
berteriak-teriak panik di kejauhan. Warga mulai berkerumun. Tapi suara mereka
jauh. Seperti di dalam akuarium.
Yang terdengar jelas di telinga Reno hanya satu. Suara
mekanik halus dari kamera itu. Di tengah kekacauan jalan raya.
Zzt.
Lensa berputar. Fokus terkunci. Mengunci wajah Reno yang
hancur. Wajah yang kini mirip dengan Tari.
Cekrek.
Flash imajiner menyala di kepala Reno.
Mengabadikan kematiannya dalam resolusi 12 megapixel.
Kesadaran Reno memudar. Dunia menjadi lorong hitam yang
panjang.
Di seberang jalan, di bawah tiang lampu yang
remang-remang... Reno melihatnya.
Seorang wanita berbaju flanel. Berdiri tegak. Kakinya lurus.
Wajahnya utuh. Cantik. Dia memegang helm Reno. Dia tersenyum manis. Melambaikan
tangan.
Reno ingin menangis, tapi air matanya darah.
Suara sirine ambulans meraung-raung mendekat, memecah malam.
Wiu... wiu... wiu...
Namun bagi Reno, suara itu terdengar sangat jauh, kalah
telak oleh suara tawa lirih dari wanita yang kini duduk menunggunya di seberang
jalan.
"Gantian ya... sekarang kamu yang di dalam
kamera."
...
TAMAT