SEBERKAS REALITA

Menghitung...

SEBERKAS REALITA

by Aryasuta

...

Bab 1: Retak

Hujan turun di Kediri pada hari Selasa yang aneh itu. Bukan hujan biasa, tapi hujan yang terasa asing. Seolah-olah langit sedang menumpahkan air yang tidak berasal dari awan yang sama dengan kemarin; dinginnya meresap hingga ke balik tulang, membawa aroma logam dan kesunyian yang ganjil. Tetesan air jatuh vertikal sempurna—tanpa angin, tanpa suara cipratan, hanya melodi monoton. Dunia di luar jendela kedaiku mendadak kehilangan volumenya, menyisakan sebuah kotak kedap suara di mana hanya aku dan kegelisahanku yang bernapas.

Aku, Ray, 32 tahun, pengelola kedai kopi kecil di sudut kota Kediri yang jarang turis kunjungi. Bukan profesi yang kutargetkan saat usia 23 tahun dan berambisi mengguncang industri kopi Kediri. Dulu, aku percaya bahwa dengan timbangan digital dan termometer yang akurat, aku bisa mengendalikan semesta dalam secangkir porselen. Namun di sinilah aku, memandangi biji-biji kopi yang berhamburan di lantai kayu seperti semut-semut yang kehilangan ratu. Tanganku yang biasanya stabil kini seringkali gemetar tanpa alasan, membuat biji-biji arabika mahal itu menjadi sampah di atas lantai yang berdebu.

“Ada yang berubah dalam cara Anda melihat biji kopi itu,” kata pria di sudut kedai. Pelanggan misterius itu datang setiap Selasa dan Jumat, selalu memesan kopi Ethiopia dengan V60, dan selalu membaca novel terjemahan yang tak pernah kulihat di toko buku manapun. Dia duduk di sana seperti sebuah monumen masa lalu, matanya tidak pernah benar-benar menatap buku, melainkan mengawasiku dengan ketenangan yang mengintimidasi.

“Mungkin cara mataku melihat segala hal sudah berubah,” jawabku. Pikiranku terlempar pada kenyataan bahwa tidak ada angka di timbangan manapun yang bisa mengukur beratnya sebuah kehilangan. Hari itu, seperti hari-hari sebelumnya sejak tanggal 17 November, aku menghitung waktu dengan presisi sebaik mungkin. Seratus empat puluh tujuh hari sejak Tata menghilang tanpa pesan, hanya meninggalkan separuh lemari pakaian yang tiba-tiba kosong dan cangkir favoritnya di tempat yang sama. Setiap detik yang berlalu terasa seperti mililiter air yang merembes pelan ke dalam paru-paruku, membuatku tenggelam dalam keteraturan yang menyesakkan.

Danil, baristaku selama tiga bulan, memiliki tato menyerupai peta yang sering ia amati seolah mencari jalan pulang. Dia adalah anak muda yang bicara dengan kode-kode visual, seolah kata-kata terlalu kasar untuk menggambarkan kerinduannya. “Mas,” katanya sore itu. “Ada telepon dari seseorang bernama Pak Abu. Katanya penting.”

Aku tidak mengenal siapapun bernama Pak Abu. Nama itu terdengar seperti debu, kering dan asing di telingaku. “Dia bilang tentang seseorang bernama L yang menitipkan sesuatu untukmu.”

L. Nama yang tidak ada dalam daftar orang yang kukenal. Namun saat itu, sesuatu mengalir masuk ke dalam kepalaku. Rasa familier yang tak bisa kujelaskan. Seolah-olah sebuah pintu tua yang terkunci di sudut ingatanku tiba-tiba terbuka oleh embusan angin dingin.

“Di mana alamatnya?”

“Gang Skena nomor 21,” jawab Danil.

“Bukan tempat yang mudah ditemukan lewat Google Maps.”

Kediri bukanlah kota besar. Hanya kota kecil di Jawa Timur yang jarang muncul dalam perbincangan anak-anak Jakarta. Namun, selama 32 tahun hidup di sini, ada begitu banyak jalan, gang, dan sudut yang tak pernah kuinjak. Gang Skena adalah salah satunya. Tempat itu seolah bersembunyi di balik lipatan realitas Kediri yang membosankan.

Gang Skena berada di area tengah kota, gang buntu yang berujung ke sebuah sekolah. Tidak ada orang di sana selain seorang penjual kerak telor yang tertidur di gerobaknya. Suasana di sana begitu statis, seolah-olah waktu telah membeku dan debu yang beterbangan adalah satu-satunya hal yang diizinkan untuk bergerak.

“Anda pasti Ray.” Suara itu membuatku berbalik secepatnya. Pria itu mungkin berusia sekitar 70 tahun dengan postur tegak, mengenakan kacamata bundar, dan kemeja bernoda cat biru.

“Pak Abu,” tebakku.

“Tata bilang kamu selalu tepat waktu. Itu tidak sehat.”

Kalimatnya menghantamku. Bagaimana dia bisa mengenal Tata? Dan bagaimana dia bisa tahu tentang obsesiku terhadap waktu? Dia membawaku ke sebuah bangunan tiga lantai yang seharusnya tidak mungkin ada di gang sempit itu. Bangunan itu terlihat seperti gedung sekolah lama dengan pintu bertuliskan Studio Senja.

Interior studio itu penuh dengan kanvas, beberapa kosong, beberapa setengah jadi, dan beberapa tertutup kain. Yang membuatku terkejut, di atas meja kayu panjang yang mungkin pernah menjadi meja guru, terdapat alat-alat penyeduh kopi lengkap—V60, Chemex, Aeropress, dan sebuah mesin espresso tua yang tidak pernah kulihat modelnya. Segala sesuatu di sini terasa seperti pengkhianatan terhadap kenyataan yang selama ini kuyakini.

“Dia menghabiskan sembilan puluh tujuh persen waktunya di sini,” kata Pak Abu, “Tiga bulan terakhir sebelum pergi.”

Aku mencoba memproses informasi itu. Tata adalah desainer grafis freelance yang bekerja dari rumah kami, atau kadang dari kedai. Aku tidak pernah tahu dia melukis. Atau memiliki hubungan dengan tempat aneh ini. Setiap inci dari hidupnya yang kupikir sudah kupahami, kini tampak seperti sketsa yang tidak selesai.

“Saya tidak mengerti,” kataku akhirnya. Pak Abu mengambil sebuah lukisan dari tumpukan dan meletakkannya di depanku. Itu lukisan seorang pria yang sedang menyeduh kopi dengan V60, wajahnya fokus pada timbangan digital, dan setetes keringat menggantung di pelipisnya.

Itu aku. Namun, bukan hanya aku. Ada sesuatu dalam lukisan itu—diriku yang lebih jelas, lebih nyata dari yang kulihat di cermin setiap pagi. Tata menangkap ketakutanku dalam goresan kuas, memperlihatkan betapa menyedihkannya seorang pria yang mencoba mengontrol dunia lewat butiran kopi.

“Dia memanggilnya Manusia yang Menimbang Kehidupan Dalam Gram,” jelas Pak Abu. “Ini lukisan kelima dalam seri tentangmu.”

“Seri?” Tanyaku dengan suara terbata.

“Ada tujuh belas lukisanmu. Delapan di antaranya sudah dibeli kolektor dari Tokyo.” Kenyataan itu menghantamku lebih keras dari kepergiannya; bahwa di suatu tempat di dunia ini, ada orang-orang asing yang memandangi jiwaku yang telanjang dalam kanvas, sementara aku sendiri merasa asing di rumahku sendiri.


...

Bab 2: Kopi Ketidakpastian

Hujan mulai turun lagi saat aku duduk di teras belakang studio. Suaranya tidak lagi terdengar seperti melodi monoton yang menyebalkan, melainkan seperti bisikan-bisikan yang menuntut jawaban dari ruang hampa di dadaku. Dari sini, aku bisa melihat Gunung Wilis yang tampak kabur di balik tirai hujan. Gunung itu berdiri diam, seolah-olah menjadi saksi bisu atas segala rahasia yang disimpan Tata selama ini di balik punggungku.

Di tanganku, sebuah amplop cokelat berisi surat dan beberapa sketsa terasa berat. Jemari-jemariku yang biasanya lincah mengatur suhu air, kini terasa kaku saat merobek segelnya. Kalimat di awal surat itu langsung menusukku: Untuk Ray, yang selalu menghitung segalanya kecuali waktu yang terbuang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Kata-kata itu bukan sekadar sindiran; itu adalah diagnosis atas hidupku yang terlalu sibuk dengan presisi 0,1 gram namun buta terhadap detak jantung di sampingku.

Tata menulis bahwa dia telah didiagnosis dengan tumor rahim. Stadium awal, masih bisa dioperasi, tapi dengan risiko tinggi. Duniaku terasa runtuh, lebih hancur daripada saat mesin espresso mahalku meledak tahun lalu. Dia memutuskan untuk menghabiskan sisa waktunya yang tidak pasti dengan melukis, berkelana, dan melihat dunia tanpa batasan presisi. Di akhir surat, dia menulis: Aku tidak menghilang, Ray. Aku hanya pergi ke tempat yang tidak bisa kau ukur dengan gram dan mililiter. Jika kau memutuskan untuk menemukanku, bukalah dirimu pada ketidakpastian. Aku menunggumu di sana. Di sebuah Kota, Kota Tak Bernama.

Kota Tak Bernama. Nama itu tidak ada dalam atlas mana pun yang pernah kupelajari, namun getarannya terasa nyata di ujung lidahku. Pak Abu muncul dengan dua cangkir kopi. “Ini adalah resep rahasianya. Dia menyebut ini kopi ketidakpastian”. Aku menyesapnya, dan indra perasaku seolah-olah meledak. Kopi itu pahit di awal, manis di tengah, dengan akhir tak terdeskripsikan—seperti lagu dalam bahasa asing yang tak kau pahami, tapi entah bagaimana tetap membuatmu menangis.

“Dia ke mana?” tanyaku dengan suara serak.

“Pertanyaan yang lebih tepat adalah sampai kapan?” Pak Abu menyesap kopinya dengan tenang. “Waktu tidak selalu bergerak linear, anak muda. Terutama bagi mereka yang hidupnya sedang dalam ambang batas”.

Kembali ke kedai, aku menemukan seorang pengunjung baru—perempuan dengan rambut sangat pendek kecuali satu untai panjang di sisi kanan wajahnya. Dia duduk di kursi yang biasanya ditempati Tata, menatapku dengan tatapan yang seolah-olah bisa menembus dinding pertahananku. “Kopi Ethiopia, tanpa gula, V60, suhu air 94 derajat,” katanya sebelum aku sempat menawarkan menu.

“Kamu mengenal Tata?” tanyaku langsung.

“Semua orang mengenal Tata,” jawabnya dengan senyum misterius.

“Pertanyaannya adalah, apakah kamu benar-benar mengenalnya?”. Perempuan itu, Ani, kurator seni dari Yogyakarta, menyerahkan kartu nama Galeri Pembatas Mimpi.

“Tata meninggalkan sesuatu untukmu di kamar 217, Hotel Waktu, Yogyakarta. Datanglah saat kamu siap melepaskan timbanganmu”.

Hotel Waktu ternyata benar-benar ada di Yogyakarta, meskipun tidak ada satu pun taksi yang bisa mengantarku langsung ke sana. Aku harus berjalan selama 17 menit ke arah yang berlawanan dengan Keraton. Setiap langkah yang kuambil terasa seperti sedang mengupas lapisan realitas yang selama ini menyelimutiku. Resepsionis hotel menyerahkan sebuah kunci kuno.

“Ini bekerja hanya jika kamu memegangnya dengan tangan kiri dan menutup mata kananmu saat membuka pintu,” jelasnya dengan serius.

Aku pikir itu lelucon konyol, namun saat aku mencoba membuka pintu kamar 217 dengan cara normal, kuncinya tidak masuk ke lubang. Setelah mengikuti instruksi absurd itu, kunci tersebut masuk dengan sempurna seolah-olah pintu itu memang mengenali sentuhan ketidaklogisanku.

Kamar itu kecil tapi terasa lebih luas dari yang seharusnya. Dindingnya putih bersih dengan satu lukisan besar: diriku yang sedang tidur dengan ekspresi damai—tanpa kekhawatiran, tanpa perhitungan. Di atas meja kecil, terdapat peralatan kopi lengkap dengan sebuah termos air yang masih panas. Uapnya mengepul lembut, seolah-olah seseorang baru saja menuangkannya beberapa detik yang lalu.

Di sampingnya, ada selembar kertas bertuliskan tangan Tata: Seduh dengan 17 gram kopi, atau 19, atau 15. Rasakan perbedaannya. Atau mungkin tidak ada perbedaannya sama sekali. Itu tidak masalah. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyeduh tanpa menimbang. Aku membiarkan air panas mengalir begitu saja, mengikuti insting yang selama ini kukubur dalam angka.

“Bagaimana rasanya?” tanya sebuah suara di belakangku. Aku berbalik dan melihatnya. Tata. Rambutnya pendek, matanya cerah, terlihat kurus namun lebih hidup dari sebelumnya.

“Kamu nyata,” bisikku. “Tergantung definisimu tentang nyata,” jawabnya sambil tersenyum lemah. Dia membuka jendela, dan yang terlihat bukanlah jalan ramai Yogyakarta, melainkan pemandangan Gunung Wilis di Kediri—sebuah kemustahilan geografis yang kini kuterima tanpa perlawanan.

“Tumormu?” tanyaku akhirnya.

“Ya, aku sakit. Tapi ini lebih seperti... realitasku yang tumor. Kadang membesar dan mengaburkan batas-batas, kadang mengecil dan membuatku terjebak dalam satu dunia saja”. Dia menyesap kopi yang kuseduh tanpa timbangan itu dan berkata, “Sempurna”.

“Bukan kesempurnaan yang kamu kejar selama ini, Ray. Tapi kontrol,” katanya lembut. “Waktuku habis di sini. Pembatas antara dunia akan menutup dalam lima menit”. Sebelum menghilang, dia memberikan instruksi terakhir: “Pameranku di Galeri Pembatas Mimpi, 17 November. Datanglah, tapi hanya jika kamu siap melihat realitas yang berbeda. Bawalah cangkir retak dari lemari atas di kedai. Itu kuncinya”.

Dalam sekejap, dia lenyap bersama pemandangan Gunung Wilis, meninggalkanku di sebuah kamar hotel di Yogyakarta yang kini kembali menghadap ke jalanan bising yang normal.

...

Bab 3: Melampaui Timbangan

Kembali ke Kediri, aku menemukan kedaiku telah berubah. Bukan perubahan fisik yang drastis, tapi sesuatu yang lebih halus, seolah-olah atmosfer di dalamnya telah bergeser beberapa derajat dari porosnya. Aroma kopi yang biasanya tajam dan klinis kini bercampur dengan wangi tanah dari tanaman-tanaman kecil yang diletakkan Danil di setiap sudut meja. Cahaya lampu yang dulu kusetel dengan terang benderang kini tampak lebih temaram dan hangat, sementara musik jaz pelan mengalir dari pengeras suara kecil yang tidak kuingat pernah kupasang.

“Selamat datang kembali, Mas,” sambut Danil dengan senyum yang tidak seformal biasanya. “Bagaimana Yogyakarta?”. Aku terdiam sejenak, menatap matanya mencari jejak kebohongan. Bagaimana mungkin dia tahu? Padahal seingatku, aku pergi meninggalkan Kediri tanpa meninggalkan sepatah kata pun pada siapa pun .

“Kamu berbicara dengan Ani?” tanyaku penuh selidik. Danil mengernyit, terlihat bingung,

“Ani? Oh, pelanggan dengan rambut sangat pendek itu? Dia tidak datang lagi sejak Mas pergi”.

Aku melangkah ke lantai atas kedai, tempat tinggalku yang kini terasa terlalu sunyi tanpa suara ketikan keyboard Tata di sudut ruangan. Di atas lemari dapur yang berdebu, aku menemukan cangkir retak itu—benda yang selama ini luput dari perhatianku karena aku terlalu fokus pada gelas-gelas ukur laboratorium yang bersih. Retakan itu membentuk pola jaring laba-laba yang rumit, seolah menyimpan sejarah setiap tawa dan pertengkaran yang pernah kami lalui di atas meja ini . Saat kuangkat, aku menemukan sebuah koordinat GPS dan tanggal 17 November tertempel di bawahnya. Angka itu tidak lagi kurasakan sebagai tekanan, melainkan sebuah kompas yang menunjuk pada ketidakpastian yang indah.

Aku mulai mengubah cara menjalankan kedaiku. Timbangan digital dengan presisi 0,1 gram yang dulu kupuja kini terkunci rapat di dalam laci gelap. Aku belajar untuk mendengarkan suara biji kopi saat digiling, merasakan suhu air hanya dengan uap yang menyentuh pipiku, dan menuangkan air dengan gerakan tangan yang mengikuti irama napas, bukan detak jam digital. Anehnya, pelanggan justru semakin memadati kedai. Mereka tidak lagi datang untuk mencari secangkir kafein yang terukur, tapi untuk merasakan karakter rasa yang kini lebih berani dan jujur . Pak Hari, pria yang selalu membaca novel terjemahan itu, berkomentar sambil tersenyum, “Kopimu sekarang seperti jaz Miles Davis. Kamu tidak tahu ke mana arahnya, tapi kamu menikmati perjalanannya”.

Setiap malam, mimpi-mimpiku tentang Tata menjadi semakin nyata. Dalam satu mimpi, kami berdiri di pantai dengan laut berwarna hijau zamrud yang mustahil. Tata melukis di atas pasir dengan ujung jemarinya, membuat pola-pola yang langsung dihapus oleh ombak hanya dalam hitungan detik.

“Seni sejati adalah yang tidak bertahan,” bisiknya di antara deru angin. “Seperti secangkir kopi yang bagaimanapun sempurnanya, pada akhirnya akan dingin dan habis”.

17 November tiba tanpa peringatan atau guntur yang dramatis. Galeri Pembatas Mimpi ternyata sebuah bangunan kecil di pinggiran Yogyakarta yang tampak begitu bersahaja dari luar. Pukul 17.17 tepat, aku berdiri di depan pintunya dengan cangkir retak di tangan. Pintu kayu itu terbuka tanpa suara, seolah-olah gedung itu sendiri sedang menarik napas panjang untuk menyambutku.

Interior galeri itu secara ajaib jauh lebih luas dari tampak luarnya, dengan dinding-dinding putih tinggi yang memamerkan seluruh perjalanan hidupku melalui kuas Tata. Di tengah ruangan, Tata berdiri dengan rambut panjang yang berkilau di bawah lampu galeri. Dia tampak seperti versi dirinya yang paling murni, mengenakan gaun putih sederhana dengan liontin berbentuk cangkir kopi yang menggantung di lehernya.

“Kamu datang,” katanya lembut sambil mengambil cangkir retak dariku. “Koordinatnya berubah, Ray. Itu artinya kamu sudah siap untuk melihat realitas”. Ia mengeluarkan sebuah kunci kecil yang dingin saat ia letakkan di telapak tanganku. Tata menunjuk ke sebuah pintu di belakang galeri yang memancarkan cahaya putih yang lembut. “Pintu itu mengarah ke mana pun yang kau inginkan. Ke realitas di mana aku tidak pernah sakit, atau ke realitas di mana kita menghadapi semuanya bersama dengan segala ketidakpastiannya”.

Aku menatap lukisan-lukisan di sekelilingku—ada versi di mana kami menua bersama, dan ada versi di mana aku menyeduh kopi sendirian di masa tua.

“Bagaimana aku tahu mana yang benar?” tanyaku dengan keraguan yang tersisa . Tata mendekat, mencium bibirku selembut kelopak bunga, dan membisikkan pesan terakhirnya:

“Berhentilah menimbang kehidupan dalam gram, Ray”.

Di sebuah sudut kedai di Kediri, Ray kini duduk memandang hujan yang turun membasahi kaca jendela. Ia tidak lagi menghitung kecepatan tetesannya atau mengukur suhu kopi di hadapannya yang ia seduh hanya dengan insting dan cinta . Jari manisnya dihiasi cincin perak dengan ukiran cangkir retak, kembaran dengan cincin yang melingkar di jari Tata yang duduk di depannya. Rambut Tata mulai tumbuh kembali setelah kemoterapi terakhirnya, sebuah tanda kehidupan yang sedang berjuang di tengah ketidakpastian.

“Apakah kita memilih realitas yang tepat?” tanya Ray sambil menatap Gunung Wilis yang tampak berbeda di bawah cahaya senja. Tata menggenggam tangannya erat, merasakan denyut nadi masing-masing yang tidak lagi terikat oleh angka.

“Tidak ada yang tepat atau salah,” jawabnya tenang. “Hanya ada pilihan dan konsekuensinya”. Di luar, senja memudar menjadi warna tembaga, menutup hari dengan sebuah kesempurnaan yang tidak perlu diukur.

...

TAMAT

Dibaca ... kali
0