Ranting Pati
RANTING PATI
by Netrakala
BAB 1: LILIN NGAWEN SUKMO
Sore itu tak seperti biasanya. Jalanan desa yang ramai kini
tampak mati. Tak ada celotehan, tak ada tawa anak kecil bermain. Bahkan ibu-ibu
yang gemar bergosip di teras tetangga memilih mengunci diri di dalam rumah.
Joko berhenti, menatap bangunan yang dulu ia sebut rumah.
Kini tempat itu terasa sunyi bak kuburan yang tak pernah dikunjungi. Dindingnya
lembap berlumut, sementara pintu kayu jati di depan sana separuh terbuka,
memperlihatkan mulut ruang tamu yang gelap dan menganga. Seakan menegaskan tak
pernah ada kehidupan di tempat itu.
Joko menarik napas panjang, membiarkan aroma tanah basah dan
daun busuk memenuhi rongga dadanya. Sudah bertahun-tahun ia tak menjejakkan
kaki di tanah ini, tetapi kini ia pulang. Bukan karena rindu, tapi karena
sesuatu yang membuat hatinya bergetar pilu.
“Bapakmu wis ora ana, Jo.”
Tidak ada tangisan di ujung kalimat itu. Hanya suara napas
orang tua yang terasa berat, lalu sambungan telepon terputus. Kini, setelah
menempuh perjalanan panjang, yang tersisa hanya rasa asing. Tidak ada bendera
kuning, tidak ada keramaian pelayat.
Langkah Joko terdengar berat, sepatu kulitnya menggerus
tanah berpasir, memecah keheningan yang terasa tidak wajar. Di teras rumah tak
ada seorang pun.
Krieeeekkk…
Suara engsel berkarat berbunyi nyaring saat Joko perlahan
mendorong pintu depan. Seketika ia mematung. Bukan bau apek rumah tua yang
menyambutnya, melainkan aroma dupa kemenyan yang bercampur pekat dengan amis
bunga melati. Baunya begitu menyengat hingga membuat perut Joko mual.
Matanya tertuju pada ruang tengah. Tampak tiga orang duduk
bersila di lantai. Di antara mereka, tubuh Bapaknya terbujur kaku di atas tikar
pandan lusuh yang sudah terkoyak, tertutup keranda bambu.
Anehnya, jasad itu tidak dibungkus menggunakan kain mori
putih, melainkan kain hitam polos seutuhnya. Beberapa lilin menyala di sekitar
jasad, menciptakan bayang-bayang panjang yang menari mengerikan di dinding.
Tidak ada doa yang dipanjatkan. Tidak ada ratapan. Hanya
keheningan yang begitu sesak, seperti batu besar yang sengaja ditimpakan di
atas dada.
“Kenapa… Pakai kain itu? Kenapa harus ada lilin?” gumam
Joko.
Entah kenapa hanya kata tanya itu yang terucap dari ribuan
kalimat kesedihan. Apakah ini yang membuat para tetangga enggan datang? Tidak
ada yang menjawab, hanya perempuan tua di ujung ruangan—Bude Tiyem—yang
mengangkat kepalanya, lalu menggeleng pelan.
Joko bergerak ke arah si mayit. Ia mengangkat keranda bambu
itu lalu bersimpuh di sampingnya. Perlahan ia menyentuh kain hitam yang
membungkus jasad Bapaknya. Dingin. Basah. Seakan ia baru saja menyentuh
bongkahan daging yang disimpan lama dalam lemari pendingin.
Perlahan tangan Joko menyisir, membelai lembut jasad Bapak
yang sudah lama tak ia peluk. Namun, ia merasakan ada yang ganjil saat
tangannya menyentuh area dada. Ada benjolan keras di balik kain itu.
Joko menoleh ke arah Bude Tiyem. Perempuan itu masih
membisu, matanya melotot memberi isyarat agar tak menyentuh benda apa pun di
sana. Namun, Joko tak peduli. Dengan lembut ia membuka satu per satu ikatan di
jasad itu. Saat ia menyingkap kain yang menutupi dada Bapaknya, Joko
mengerutkan dahi.
Sebuah ranting pohon kecil, berwarna hitam legam seperti
arang, menancap dalam di dada kiri Bapaknya. Yang lebih mengerikan, dari ujung
benda itu terus mengucur cairan gelap yang merembes keluar.
Joko melihat telapak tangannya. Gelap dan lengket. Darah.
“Siapa yang melakukan ini?” tanya Joko, suaranya bergetar
menahan amarah.
Ketiga orang di ruangan itu hanya tertunduk.
“Mbok? Siapa?!” bentak Joko.
“Sudah, biarkan saja benda itu di tubuh Bapakmu. Biarkan dia
larut bersama jasad itu,” ucap Bude Tiyem serak.
“Kenapa? Apa yang terjadi? Ini tidak wajar, Bude!”
Joko kembali memalingkan kepalanya ke arah dada Bapak. Amarah
bercampur sedih membuncah, bak raungan induk singa yang kehilangan anaknya.
Tanpa ragu, Joko mencabut ranting kayu kecil itu dari tubuh Bapaknya.
“JANGAN!” jerit Bude Tiyem.
Terlambat.
Seketika udara di ruangan itu turun drastis, menjadi
sedingin es. Mayat di depan Joko tersentak hebat.
“Gusti Pangeran!” Joko terlonjak mundur.
Kedua laki-laki yang tadi duduk di dekat Bude Tiyem langsung
lari tunggang langgang, mendobrak pintu belakang karena ketakutan. Jasad itu
terus bergetar, seakan kejang.
“Tancapkan lagi! Jo, tancapkan lagi!” teriak Bude Tiyem
panik.
Joko kelimpungan. Ia mencoba meraih ranting kecil yang
terjatuh di sisi jasad Bapaknya. Namun tiba-tiba, semua lilin di sekitar jasad
padam, hanya menyisakan satu yang berada dekat kepala.
Dalam keremangan minim cahaya itu, jasad Bapak terus
bergerak-gerak. Terdengar suara tulang bergemeretak, seolah mayat itu memaksa
otot-otot kakunya untuk bangkit. Ia ingin melepaskan lilitan tali yang mengikat
tubuhnya.
“Joko!”
Suara lirih Bapaknya terdengar serak, mendesis tepat di daun
telinga.
Joko mundur sampai punggungnya menabrak dinding. Di
depannya, mayat Bapaknya bergerak perlahan, bangkit duduk. Separuh tubuhnya
dari pinggang ke bawah masih terikat pocong, sedangkan bagian atasnya
sudah terurai, menampilkan wajah Bapak yang pucat pasi dengan mata melotot.
“Wayahmu…” ucap si mayit lirih.
“Jok, tancapkan lagi!” jerit Bude Tiyem dari sisi seberang.
Wanita itu juga sudah terpojok di dinding.
Joko panik setengah mati. Ia menggenggam erat ranting kecil
di tangan kanannya. Dengan tangan gemetaran, ia memberanikan diri menerjang
maju dan menghunjamkan kembali ranting kecil itu ke lubang luka di dada
Bapaknya.
Crass!
Belum sempat ia menarik napas, tiba-tiba Joko merasakan
kesakitan luar biasa. Badannya terasa panas, dadanya seperti disiram minyak
mendidih.
“Uuukkkk!”
Joko terbatuk keras. Cairan kental menyembur dari mulutnya,
berbau anyir dan terasa logam. Darah.
“Joko! Cepat!” jerit Bude Tiyem yang kini merangkak ke arah
keponakannya.
“Wayahmu…” desis mayit itu lagi.
Joko semakin kesakitan, ia memukul-mukul dadanya sendiri.
Seketika lilin terakhir padam. Gelap total. Kepala Joko menyentak ke atas.
Namun, bukan lagi sosok ayahnya yang ia lihat dalam kegelapan.
Melainkan enam orang laki-laki. Empat orang memanggul
keranda, satu orang membawa kendi kecil, dan satu lagi memegang payung mayit
berwarna hijau.
“KROMOLEO.”
“ARRRRRGGGGGG!” Joko menjerit. Tubuhnya menggelepar di
lantai, matanya melotot, mulutnya terbuka mengeluarkan liur bercampur darah.
Suara-suara berdengung di kepalanya, tumpang tindih memintanya untuk mati saat
ini juga.
Joko tak kuat. Ia mengangkat ranting kecil di tangannya,
berniat menusuk telinganya sendiri untuk menghentikan suara itu. Namun, saat
tangan itu hampir bergerak…
Tap.
Seketika lilin di sekeliling jasad Bapaknya menyala kembali
secara serentak. Joko terengah, semua keributan hilang. Sosok-sosok itu lenyap.
Di depannya, Bude Tiyem berdiri terengah-engah, tangannya
mencengkeram erat keranda bambu yang kini menutup tubuh Bapak. Mayat itu sudah
terbaring diam seperti sedia kala.
Joko bingung, napasnya memburu. Dadanya masih terasa panas.
Ia melihat tangan kanannya yang memegang ranting. Kulit telapak tangannya
melepuh hebat, dagingnya memerah dan berair, seakan ia baru saja menggenggam
bara api neraka.
“Bude, ini apa?”
Bude Tiyem tak menjawab. Ia berjalan tertatih ke arah lemari
tua di pojok ruangan, mengeluarkan sebuah kotak kayu jati berukir aksara Jawa.
“Ini peninggalan Bapakmu,” ucap Bude menyerahkan kotak itu.
Joko menerimanya dengan ragu. Saat menyentuh permukaannya,
ia merasa janggal. Kotak ini terasa hangat, seakan baru saja keluar dari
tungku. Joko membuka penutupnya. Aroma dupa menyeruak. Di dalamnya tergeletak
sebuah lilin berwarna hitam legam.
Di bawah lilin itu, ada secarik kertas kecil.
“Yen emang kudu dibakar, ya dibakar. Tapi elingo saben
cahya sing murup kudu diganti karo sing mati.”
Bulu kuduk Joko merinding. “Bude, jelaskan padaku. Apa ini?”
Belum sempat Bude menjawab, Joko kembali mengerang. Dadanya
kembali terasa terbakar. Urat-urat di tangannya menonjol kebiruan.
“Nyalakan lilinnya, Jo! Nyalakan sekarang!” perintah Bude
panik.
Dengan sisa tenaga, Joko menyambar lilin hitam itu, memantik
api dari lilin kecil di dekat jenazah. Begitu sumbu lilin hitam itu terbakar,
rasa sakit di tubuh Joko berhenti total. Kulit tangannya yang melepuh perlahan
membaik, panas di dadanya lenyap tak bersisa.
“Lilin Ngawen sudah dinyalakan. Kamu tidak bisa menghindar,
Jo,” ucap Bude Tiyem.
“Apa maksudnya?”
“Separuh hidupmu sudah dijadikan tumbal.”
Joko terdiam. Otaknya lambat mencerna. “Tumbal?”
Bude Tiyem menutup matanya sejenak, menghela napas panjang
yang terdengar berat. “Dengarkan baik-baik. Lilin yang kau nyalakan itu adalah
Lilin Ngawen Sukmo. Kau bisa hidup sekarang karena sesuatu yang melekat pada Ki
Rogo. Saat kau menyalakan lilin itu, sebagian dari sukmamu sudah menanggung
beban kematian si penerima santet.”
Bude menunjuk jasad adiknya. “Nyala api lilin itu menahan
yang sudah mati. Santet yang menyerangmu sementara tertahan di jasad Bapakmu.
Itu berarti, jasad Bapakmu tidak akan bisa kau kuburkan. Kalian terikat satu
sama lain.”
“Apa yang terjadi kalau aku nekat menguburkan Bapak?” tanya
Joko.
“Kau akan mati. Santet itu akan langsung menyerang
jantungmu. Bahkan semua garis keturunan Ki Rogo akan mati, termasuk aku.”
Spontan Joko melihat jasad Bapaknya. Wajah yang tadinya
pucat bersih, kini perlahan muncul bercak-bercak lebam kebiruan, seolah darah
beku sedang merambat di bawah kulitnya.
“Sudah paham?” tanya Bude Tiyem.
Joko mengangguk kaku. “Jadi, tubuh Bapak… menjadi tameng
untukku?”
“Benar. Jasad itu tidak akan membusuk selama 40 hari ke
depan, asalkan kau menjaga Lilin Ngawen tidak padam. Ini disebut Ngawen
Sukmo. Menahan jiwa yang mati.”
“Lalu setelah 40 hari?”
“Setelah 40 hari, sawab dianggap tuntas. Santet garis
keturunan tak berlaku, jasad Bapakmu bisa dikuburkan.”
Joko ingin memberontak. Ia mencoba bangkit, ingin lari
keluar dari rumah terkutuk ini. Namun, kakinya terasa berat, seolah dipaku ke
lantai tanah. Udara di sekelilingnya memadat, menekan dadanya setiap kali ia
berpikir untuk pergi. Ia sadar, ia terpenjara.
Bude Tiyem beranjak perlahan, tubuh rentanya tertatih menuju pintu. Tidak ada sorot mata duka di wajahnya, hanya kegetiran yang mendalam.
“Aku akan membawakan bekal selepas fajar. Berdoalah semoga Gusti Pangeran memberi kekuatan,” ucap Bude Tiyem, lalu menghilang di balik pintu yang gelap, meninggalkan Joko sendirian bersama mayat Bapaknya dan satu nyala lilin yang bergoyang tertiup angin.
Bab 2: Tamu Tak Diundang
Malam itu adalah hari pertama Joko melakukan ritual 40
Dino Sawab. Tepat pada tengah malam, keheningan mulai pecah. Bukan dengan
teriakan, melainkan suara gesekan halus dari arah jasad Bapaknya.
Krrrrkk... krrrrkk...
Joko menahan napas. Suara itu terdengar seperti kuku-kuku
panjang yang sedang menggaruk dinding bambu dari sisi dalam. Pelan, tetapi
pasti, keranda itu bergetar.
Kemudian, suara gesekan itu berubah menjadi suara tulang
yang beradu. Aroma melati dan dupa yang semula menenangkan, mendadak lenyap
digantikan oleh bau anyir darah segar yang menyeruak, seolah-olah ada hewan
yang baru saja disembelih di tengah ruangan.
Joko tahu, jasad ayahnya tidak membusuk, tetapi santet yang
tertahan di dalamnya mulai memberontak. Ki Rogo mulai bergerak, mencoba
melepaskan ikatan Ngawen Sukmo.
Panik, Joko menekan keranda kuat-kuat. Ia takut jika jasad
Bapaknya lepas, maka ia akan dimakan hidup-hidup. Gerakan berhenti sejenak.
Joko dengan napas terengah mencoba memastikan jika jasad Bapaknya sudah diam
seutuhnya. Namun, saat ia kembali duduk bersila, suara itu muncul.
“Nang. Mreneo. Aku njaluk tulung.”
Braaakkk!
Joko terlonjak sampai tubuhnya terjungkal ke belakang. Kain
penutup keranda tersingkap sedikit, memperlihatkan kepala Ki Rogo yang sudah
menoleh patah ke arahnya.
“Nang tulung, awakku loro kabeh...”
Joko tak menjawab. Ia memejamkan mata kuat-kuat,
menggelengkan kepala mencoba mengusir halusinasi. Namun, saat ia kembali
membuka mata, sosok kepala Ki Rogo masih menoleh, matanya nanar memohon belas
kasihan.
“NANG! TULUNG BUKA! PANAS!” jerit Ki Rogo sambil
menggoyangkan badannya yang masih terpocong.
Tiba-tiba, suara gaib yang kasar menguasai pikiran Joko. Bukan
lewat telinga, tapi langsung menghantam otaknya.
"Lepaskan... Bebaskan aku... Anak terkutuk, bunuh
wadah ini... Lepaskan ikatan tumbal..."
Joko mencengkeram kepalanya, memaksakan diri untuk fokus
pada satu-satunya cahaya: Lilin Ngawen Sukmo. Setelah hampir satu jam bergulat
dengan kewarasan, suara gesekan mereda, dan nyala lilin kembali stabil. Joko
terengah, keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tak menyangka, hari pertama
sudah segila ini.
***
Malam-malam berikutnya, Joko mulai terbiasa dengan jasad
Bapaknya yang terus mengerang. Namun, pada malam ketiga, teror itu naik ke
tingkat yang berbeda.
Rintik hujan mulai turun semenjak sore, mengetuk atap
genting dengan irama monoton. Jam dinding tua menunjukkan hampir tengah malam.
Joko menatap Lilin Ngawen di sisi jasad Bapaknya. Anehnya,
nyala api lilin itu tegak lurus, diam mematung seperti lukisan. Padahal, angin
malam menderu kencang dari celah ventilasi, bahkan sempat membuat asap rokok
Joko berputar liar.
Drrrrttttt…
Lantai rumah bergetar. Joko tersentak, ia mematikan
rokoknya.
Drrrrttttt…
Kali ini keranda bergetar hebat, seakan ada gempa lokal yang
hanya terjadi di titik itu.
“Nang. Culno aku!”
Joko memalingkan wajah.
“Teko nang. Dedemit e teko!”
Deg.
Jantung Joko berdetak kencang tak beraturan. Baru kali ini
jasad Bapaknya mengucap kalimat peringatan. Lalu sayup dari kejauhan, di antara
suara hujan, Joko mendengar suara langkah kaki banyak orang mendekat.
“Kromoleo... Moleo... Kromoleo... Moleo...”
Suara itu bergema, bukan seperti suara manusia, melainkan
seperti dengungan lebah raksasa yang menyatu dengan deru angin. Keranda bambu
makin bergetar hebat, nyala api Lilin Ngawen mulai berkedip liar, hampir mati.
“Culno aku Jo! Culno!” jerit si mayit histeris.
Bersamaan dengan itu, pintu depan terbanting terbuka.
BRAAAKKK!
Angin kencang menerobos masuk. Di ambang pintu, berdiri enam
sosok laki-laki. Tubuh mereka tinggi besar, telanjang dada dengan kulit pucat
kebiruan yang basah oleh hujan.
Perlahan sosok paling depan maju. Ia tidak menapak,
melainkan melayang tipis di atas lantai. Di tangannya ada kendi tanah liat. Di
belakangnya, sosok lain membawa payung hijau lusuh yang biasa digunakan untuk
memayungi jenazah.
“Nang! Uculno!” Jerit Ki Rogo begitu keras, tubuhnya
mengejang menahan sakit.
Enam sosok itu masuk semakin dalam. Joko memekik saat
melihat nyala api Lilin Ngawen meredup, tinggal seujung kuku. Ia hanya punya
waktu sedetik untuk memilih: bertahan atau lari.
“Wes wancine. Sukmo sing wis ditandai kudu digowo mulih.”
Suara itu berat, menggema dari segala penjuru ruangan.
Joko melepaskan pegangannya pada keranda. Ia menyambar Lilin
Ngawen dan berlari mundur ke pojok ruangan, meringkuk di sana.
Dari sudut matanya, Joko melihat si pembawa kendi berdiri di
depan kepala jasad Ki Rogo. Si pembawa payung berdiri di samping kepala,
sementara empat lainnya mengepung sisi keranda, siap memanggul.
“Aarrgghh!”
Jasad Ki Rogo menjerit memilukan.
Seketika, Joko merasakan dadanya terbakar hebat. Rasanya
seperti ada tangan tak kasatmata yang meremas paru-parunya. Ia terbatuk, darah
segar kembali muncrat ke lantai.
Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang, membawa aroma bunga
melati yang bercampur dengan bau bangkai menyengat. Lilin di tangan Joko
membesar apinya, berkobar sesaat. Dan dalam sekejap mata, keenam sosok itu
lenyap.
Ruangan kembali sunyi. Hanya suara napas Joko yang memburu
dan erangan lirih dari dalam keranda.
Joko merangkak mendekati jasad Bapaknya. Ia hendak
membersihkan sisa darah yang keluar dari mulut jenazah itu ketika matanya
menangkap sesuatu. Akibat guncangan hebat tadi, sebuah kertas lusuh terjatuh
dari balik kain kafan Bapaknya.
Tangan Joko gemetar saat memungutnya. Aroma anyir darah
menempel kuat di kertas itu. Ia membukanya.
Joko, anakku.
Jika kau membaca ini, berarti Lilin Ngawen sudah menyala.
Tubuh Bapak hanya wadah sementara untuk menahan santet Ranting Pati. Tetapi
santet itu butuh inang baru.
Kau... kau akan menjadi wadah yang baru menggantikan
Bapak. Inilah harga yang harus dibayar agar garis keturunan kita tak punah.
Santet Ranting Pati tak akan pernah mati, hanya
berpindah. Satu-satunya kunci untuk memutuskan ikatan ini ada pada Bude Tiyem.
Jika Lilin Ngawen padam sebelum kau menemukan kunci itu,
maka kau akan mati sebagai wadah terakhir.
Joko meremas surat itu. Dadanya sesak. Ia sadar, pengorbanan
Bapaknya bukan penebusan dosa, melainkan penundaan eksekusi. Bapaknya hanya
membeli waktu agar Joko bisa bersiap mati.
***
Pagi datang membawa kabut tebal. Joko tersentak dari
lamunannya saat mendengar ketukan pintu.
“Jok. Buka.”
Itu suara Bude Tiyem. Joko membuka pintu dengan mata merah
kurang tidur. Bude Tiyem berdiri membawa rantang, namun matanya langsung
menyisir ke segala sudut ruangan, mencari tanda-tanda kerusakan.
“Apa yang terjadi semalam, Jok?”
Joko tak menjawab, ia berjalan gontai dan duduk di sudut
ruangan. Bude Tiyem mengikutinya, meletakkan rantang di meja.
“Jok?” desak Bude.
Joko menatap tajam wanita tua itu. Ada rasa curiga yang
tumbuh liar di hatinya. Apakah wanita ini penyelamat, atau justru dalang di
balik semua ini?
“Semalam ada tamu. Enam orang laki-laki,” ucap Joko datar.
Wajah Bude Tiyem berubah pucat. “Siapa?”
“Entah. Dua di antaranya membawa kendi kecil dan payung
hijau.”
“Kromoleo...” bisik Bude Tiyem, kakinya lemas hingga
ia harus berpegangan pada tepi meja.
“Bude tahu siapa mereka?”
“Dedemit pertanda kematian. Mereka datang untuk mengambil
sukma Ki Rogo. Jika berhasil, ritual 40 Dino Sawab tak akan berguna.”
“Mengambil sukma? Bukannya Bapak sudah mati?”
“Kau lupa. Kalian terikat satu sama lain. Bisa dibilang
separuh sukma Bapakmu masih ada di dunia ini karena tertahan Lilin Ngawen.”
Joko sudah muak dengan teka-teki. Ia mengeluarkan surat
lusuh dari saku celananya dan melemparkannya ke hadapan Bude Tiyem. “Bude,
katakan apa sebenarnya yang kau sembunyikan? Bapak menulis bahwa kau kuncinya!”
Bude Tiyem memungut surat itu. Tangannya gemetar saat
membaca tulisan tangan adiknya. Ia menghela napas panjang, sorot matanya
meredup.
“Aku tak menyembunyikan apa pun demi mencelakaimu, Jok. Aku
hanya berusaha membantumu lepas dari kutukan.”
“Siapa yang mengirim santet ini?!” bentak Joko.
“Trah Sukmomorejo. Laki-laki yang dulu menginginkan ibumu.”
Joko terdiam. “Ibu? Tapi Ibu mati saat melahirkanku.”
Bude Tiyem menggeleng tegas. “Ibumu tidak mati karena
melahirkan. Ibumu mati karena menukar nyawanya dengan hidupmu saat kau masih
bayi. Sama seperti Bapakmu sekarang. Mereka bertaruh nyawa bergantian untuk
melindungimu dari dendam Sukmomorejo.”
“Lalu di mana bajingan itu? Biar kubunuh sekarang!” Amarah
Joko meledak, ia ingin melumat siapa pun yang membuat hidup keluarganya hancur.
“Sudah mati! Tapi santetnya adalah Sumpah Darah. Masih
bekerja meski tuannya sudah menjadi tanah.”
Tubuh Joko melemas. Musuhnya tak kasatmata. Ia melawan
dendam orang mati.
“Jok, dengarkan Bude. Kromoleo akan datang lagi di hari
ke-7. Kau harus siap, kita selesaikan semuanya malam itu juga.”
“Caranya?” tanya Joko, secercah harapan timbul di tengah
keputusasaan.
“Lakukan ritual Ranting Pati saat hari ke-7.”
“Maksudnya?”
“Saat malam ke-7, ketika Kromoleo datang dan membuka payung
kematiannya, kau harus memangku kepala Bapakmu. Letakkan Lilin Ngawen di
dadanya, lalu cabut ranting yang menancap itu...” Bude Tiyem menatap mata Joko
lekat-lekat. “Dan tancapkan kembali lebih dalam.”
“Hanya itu?”
Bude Tiyem menggeleng. “Itu kuncinya. Saat kau menancapkan
ranting itu di bawah naungan payung Kromoleo, kau membalikkan kutukan. Tapi
ingat, godaan akan sangat berat. Kau akan melihat hal-hal yang menggoyahkan
imanmu.”
“Dan satu lagi, Jok,” suara Bude Tiyem merendah. “Setelah
semua selesai, bakar keranda yang menutupi Bapakmu menggunakan Lilin Ngawen
itu. Bakar sampai habis.”
Bude Tiyem beranjak, berjalan tertatih ke arah pintu.
Sebelum keluar, ia menoleh dengan tatapan sendu yang tak pernah Joko lihat
sebelumnya.
“Persiapkan dirimu. Ingat, apa pun yang terjadi, bahkan jika
aku muncul dan mencoba membatalkan niatmu... jangan dengarkan. Tetap lakukan
ritual itu hingga tuntas.”
Bab 3: Malam Ketujuh
Senja berlalu dengan cepat, seolah matahari enggan menjadi
saksi apa yang akan terjadi malam ini. Udara Desa Rejowangi terasa jauh lebih
dingin dari biasanya, ditambah rintik hujan yang mengguyur tanpa henti sejak
siang, menciptakan kabut tipis yang merayap masuk melalui celah-celah papan
rumah kayu itu.
Menjelang tengah malam, Joko beranjak mendekati jasad
Bapaknya di tengah ruangan. Pandangan Joko terpaku pada wajah pucat di
hadapannya. Tidak ada rasa takut lagi di hatinya, yang tersisa hanya gumpalan
penyesalan yang menyumbat tenggorokan.
“Pak, apa ini yang kau sebut kasih sayang? Kenapa begitu
berat?” bisik Joko. Pertahanannya runtuh. Ia memilih untuk menumpahkan air
matanya.
“Pak, kenapa? Kenapa kau lakukan ini semua sendirian?
Sebesar apa rasa sakit yang kau tanggung untuk kami?”
Memorinya melesat ke masa lalu. Kenangan masa kecil di gubuk
ini, hangat pelukan Bapak saat hujan, hingga pertengkaran terakhir yang membuat
Joko minggat dari rumah. Kini, sosok gagah itu hanya tinggal wadah kosong yang
dipenuhi kutukan.
Sreeeekkkk…. Wuusssss….
Joko seketika berpaling ke arah pintu, menghapus kasar air
matanya. Suara itu bukan angin biasa. Itu suara kain yang bergesekan dengan
udara, disertai bau tanah basah yang tiba-tiba menyeruak tajam. Ia yakin tamu
tak diundang itu akan datang sekali lagi.
Benar saja. Dalam sekejap, suara-suara aneh mulai mengepung
rumah.
“Kromoleo… Moleho… Kromoleo…”
Joko tersentak. Ia segera merangkak ke arah Lilin Ngawen dan
menyingkap keranda bambu. Jasad Ki Rogo yang terbungkus kain hitam kini tampak
mengerikan. Kulitnya membiru lebam, urat-urat hitam bermunculan di leher dan
wajah, sementara otot-otot wajahnya berkedut menahan sakit yang tak
terbayangkan.
Napas Joko menderu. Dengan tangan kiri yang gemetar, ia
perlahan mengangkat kepala Ki Rogo dan menyangganya di atas pangkuan. Tangan
kanannya merogoh saku, mengeluarkan ranting kecil—Ranting Pati—dan
menggenggamnya erat.
“Ngapunten, Pak. Joko janji ini yang terakhir,” bisik
Joko.
BRAAAKKK!
Pintu depan terbuka lebar menghantam dinding. Tak ada siapa
pun di sana, hanya embusan angin kencang yang mematikan lampu minyak di sudut
ruangan, menyisakan cahaya tunggal dari Lilin Ngawen.
“Moleho… Kromoleo… Moleo…”
Tepat setelah itu, enam sosok laki-laki muncul di ambang
pintu.
Mereka berdiri diam, tubuh mereka tinggi besar tanpa busana,
hanya seutas kain lusuh menutup area bawah. Kulit mereka pucat pasi seperti
mayat yang terlalu lama terendam air, dengan mata hitam legam tanpa bagian
putih.
Joko menyambar Lilin Ngawen. Namun, begitu hawa panas lilin
itu mendekat, jasad Ki Rogo menjerit hebat.
“AAAAAAAAAAA!”
Mulut mayat itu terbuka lebar hingga rahangnya berbunyi,
tubuhnya mengejang liar di pangkuan Joko.
Keenam sosok itu mulai melangkah masuk. Tidak ada suara
langkah kaki. Mereka melayang tipis di atas lantai, diiringi bunyi gemeretak
tulang yang saling beradu setiap kali mereka bergerak.
Sekujur tubuh Joko merinding hebat. Sosok pembawa payung
hijau berjalan menunduk, lalu berdiri tepat di samping kepala Ki Rogo. Tanpa
Joko sadari, sosok pembawa kendi sudah menghilang dari pandangan.
Joko merasakan hawa dingin yang menusuk di tengkuknya. Ia
mendongak. Betapa terkejutnya ia saat melihat sosok pembawa kendi sudah berdiri
menjulang di belakang punggungnya, dengan bibir kendi yang diarahkan tepat di
atas kepala Joko.
Sementara itu, empat sosok lainnya berdiri di tiap sudut
keranda, seolah bersiap mengarak jenazah.
Tangan kanan Joko perlahan terangkat, mengarahkan ujung
runcing Ranting Pati tepat di atas jantung Bapaknya.
“Nang. Uwes ya Le. Bapak kesel…”
Spontan Joko menunduk. Mata Ki Rogo terbuka lebar, melotot
menatapnya tanpa berkedip. Air mata darah menetes dari sudut mata mayat itu.
“Wis wancine. Sukmo sing wis ditandai kudu digowo mulih.”
Deg.
Waktu seolah melambat. Joko melihat payung hijau di
sampingnya mulai terbuka perlahan. Krek… Krek…
Ini saatnya. Joko bersiap menghunjamkan ranting itu.
“Jok, berhenti! Jangan kau bunuh Bapakmu lagi!”
Gerakan Joko terhenti di udara. Ia menoleh. Di sudut
ruangan, entah sejak kapan, Bude Tiyem sudah berdiri di sana. Wajah wanita tua
itu basah oleh air mata, sorot matanya penuh keputusasaan.
“Bude?” tanya Joko goyah.
“Iya Jok, ini Bude. Sudah hentikan. Kasihan Bapakmu, Le.
Biarkan dia tenang, jangan kau sakiti dia lagi dengan ranting itu,” ucap Bude
Tiyem melangkah perlahan mendekat.
Hati Joko bimbang. Tangan yang memegang Ranting Pati
mengendur. Apakah ini tipuan? Atau Bude Tiyem berubah pikiran?
“Rampungi Nang! Loro! Aku wis ra kuat!” jerit jasad
Bapaknya yang menggeliat kesakitan, seolah kulitnya sedang dikuliti
hidup-hidup.
Joko tersentak, kembali menatap Bude Tiyem.
Namun, sosok di depannya itu tiba-tiba berhenti menangis. Wajah
sedih itu perlahan berubah menyeringai, sebuah senyuman ganjil yang terlalu
lebar untuk wajah manusia. Bude Tiyem tertawa melengking, suara tawanya
bercampur dengan suara gagak.
Tangan kanan Bude Tiyem terangkat. Ada parang berkarat di
genggamannya.
“Kalau kau tak mau melakukannya, biar aku yang menjadi
kuncinya!”
Tanpa peringatan, wanita itu mengayunkan parang itu
kuat-kuat ke lehernya sendiri.
CRATTTT!
Darah segar menyembur deras seperti air mancur, membasahi
lantai kayu. Suara daging yang tertebas dan tulang leher yang patah terdengar
begitu nyaring dan memualkan.
Kepala Bude Tiyem terpisah dari tubuhnya, menggelinding
pelan di lantai, berhenti tepat di samping kaki Joko. Matanya masih melotot,
mulutnya masih menyeringai.
“Sekarang, kau yang harus mati…” suara itu keluar dari
kepala yang terpenggal.
Joko memekik ngeri, napasnya tercekat.
Belum sempat rasa syoknya hilang, sosok Kromoleo pembawa
kendi bergerak cepat. Tangan pucatnya memungut kepala Bude Tiyem dan
memasukkannya ke dalam kendi kecil itu. Anehnya, kepala sebesar itu masuk
dengan mudah, seolah terhisap ke dalam lubang tanpa dasar.
“Sukmane wis mulih.”
Seketika Joko menoleh. Payung hijau di sampingnya sudah
terbuka sempurna.
Joko sadar, inilah momen kuncinya. Pengorbanan Bude
Tiyem—atau apa pun makhluk itu—adalah tanda dimulainya pemutusan kutukan.
“MATI KAU, SETAN!” teriak Joko.
Tangan kirinya memegang erat Lilin Ngawen yang apinya hampir
mati, sementara tangan kanannya menghunjamkan Ranting Pati sekuat tenaga ke
dada Bapaknya.
JLEB!
Ranting itu amblas, menembus daging busuk dan jantung yang
tak lagi berdetak.
Seketika jeritan Ki Rogo berhenti total. Angin yang sedari
tadi menderu juga tiba-tiba senyap.
Keenam sosok Kromoleo itu serentak menoleh ke arah Joko.
Wajah datar mereka kini berubah menjadi ekspresi ketakutan.
Joko tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Ia mencabut
Lilin Ngawen dari genggamannya, lalu merangkak mundur ke ujung keranda.
Wussss…
Tanpa pikir panjang, Joko membakar kain penutup keranda
bambu itu dengan nyala terakhir Lilin Ngawen. Api menyambar dengan tidak wajar,
bukan merah, melainkan biru kehijauan. Api itu melahap keranda dan jasad
Bapaknya dengan kecepatan luar biasa, menimbulkan suara gemuruh seperti suara
ribuan orang menjerit kesakitan.
Dalam hitungan detik, api itu membesar, lalu tiba-tiba
menghilang lenyap tak berbekas, membawa serta keenam sosok Kromoleo dan tubuh
tanpa kepala Bude Tiyem.
Joko mengerang panjang, tubuhnya ambruk ke lantai.
Seketika, bau busuk bangkai menyeruak hebat di ruangan itu. Bau mayat yang sebenarnya.
Joko terbatuk, menutup hidungnya. Namun di balik rasa mual itu, ia tersenyum tipis. Bau busuk itu adalah tanda bahwa pembusukan alami telah terjadi. Yang berarti, Bapaknya sudah benar-benar mati sebagai manusia biasa. Santet itu telah patah.
Bab 4: Tumbal Terakhir
Pagi itu, matahari terbit dengan malu-malu di ufuk timur,
menyinari Desa Rejowangi yang masih diselimuti kabut sisa hujan semalam.
Joko berjalan gontai keluar rumah. Wajahnya kusut, matanya
cekung, namun beban berat di pundaknya telah hilang. Ia menemui Pak RT dan
beberapa tetangga. Tidak perlu banyak cerita, bau busuk yang menguar dari rumah
Ki Rogo sudah menjadi penjelasan yang cukup bahwa jenazah itu harus segera
dikebumikan.
Warga desa datang dengan wajah bercampur takut dan iba.
Mereka bergotong royong memandikan dan mengafani jasad Ki Rogo yang kini telah
kembali normal—bukan lagi mayat hidup, melainkan tubuh kaku yang mulai membusuk
secara wajar.
Hingga matahari berada tepat di atas kepala, prosesi
pemakaman hampir selesai. Namun, Joko menyadari satu hal. Sosok perempuan tua
yang biasanya selalu hadir membawakan rantang nasi jagung tak terlihat batang
hidungnya.
“Bude Tiyem ke mana?” tanya Joko pada salah satu pelayat.
“Lah, bukannya tadi malam menemani kamu, Jok?”
Perasaan Joko tidak enak. Ingatannya kembali pada kejadian
semalam. Kepala yang menggelinding. Darah yang memuncrat. Apakah itu nyata?
Atau hanya ilusi permainan dedemit?
Dengan jantung berdebar, Joko meninggalkan kerumunan
pelayat. Ia melangkah cepat menuju rumah Bude Tiyem yang hanya berjarak lima
puluh meter dari sana.
Rumah itu sepi. Pintu depannya tidak terkunci, sedikit
terbuka seolah mengundang masuk.
“Bude?” panggil Joko.
Tidak ada jawaban. Hanya suara lalat hijau yang berdengung
nyaring.
Joko mendorong pintu. Kriet…
Seketika, lutut Joko lemas. Ia ambruk ke lantai, tak sanggup
menopang berat tubuhnya sendiri.
Di tengah ruangan, di atas tikar pandan yang digelar rapi,
tubuh Bude Tiyem duduk bersila dengan punggung tegak. Ia mengenakan kebaya
lurik terbaiknya. Namun, di mana seharusnya leher itu berada, kini hanya ada
potongan daging merah yang mulai mengering.
Di pangkuannya, tergeletak kepala Bude Tiyem sendiri.
Wajahnya tenang, matanya terpejam damai seolah sedang tidur, kontras dengan
kengerian luka di lehernya.
“BUDE!” jerit Joko. Suaranya pecah, menggema memenuhi
ruangan sempit itu.
Joko merangkak mendekat, air matanya tumpah tak terbendung.
Belum kering air mata untuk Bapaknya, kini wanita yang merawatnya sejak kecil
pun telah pergi dengan cara yang paling tragis.
Saat Joko hendak menyentuh tangan dingin budenya, ia melihat
selembar kertas tergenggam erat di jari-jari kaku wanita itu. Dengan tangan
gemetar, Joko mengambilnya.
Surat itu ditulis dengan aksara Jawa yang rapi, namun
tintanya tampak sedikit belepotan, mungkin karena ditulis dengan tangan yang
gemetar menahan takut.
Joko, anakku.
Aku tahu, saat kau membaca surat ini, berarti kau sudah
menuntaskan ritual itu. Terima kasih sudah berjuang membebaskan keluarga kita.
Maafkan Budemu ini karena telah berbohong tentang ritual
40 Dino Sawab. Maafkan aku yang menjadikan diriku sendiri sebagai kunci.
Mungkin kau bertanya, apakah Lilin Ngawen itu nyata? Ya.
Lilin itu menahan santet di jasad Bapakmu. Tapi, santet Ranting Pati tidak akan
pernah mati, ia hanya mencari inang baru. Inang itu adalah dirimu, Nak.
Bapakmu rela menjadi wadah perantara agar kau tetap
hidup. Tapi itu tidak cukup. Untuk memutus rantai ini selamanya, harus ada
tumbal dari garis keturunan yang sama yang rela mati dengan ikhlas.
Bapakmu sebagai wadah. Kau sebagai inang. Dan
aku… aku memilih menjadi pemutusnya.
Kromoleo yang datang semalam bukan untuk mengambil sukma
Bapakmu. Mereka datang untuk menjadi saksi pengorbanan. Saat kau melihat
sosokku memenggal leher, itu bukan ilusi, Jok. Itu adalah caraku membayar utang
nyawa yang ditagih oleh leluhur Sukmomorejo.
Kepalaku yang terpisah adalah simbol putusnya hubungan
santet itu dengan darah kita.
Sekarang kau bebas, Jok. Kau bisa memilih jalanmu
sendiri.
Kuburkan jasad Bapakmu dengan layak. Dan jika kau
izinkan, kuburkan potongan tubuh tua ini di sebelah adik laki-laki
kesayanganku.
Sekali lagi, maafkan Bude. Bude menyayangimu.
—Tiyem.
Joko meremas surat itu di dadanya. Ia meraung
sejadi-jadinya, memukul lantai tanah dengan kepalan tangan.
“Kenapa harus begini?! Kenapa kalian semua meninggalkanku?!”
teriak Joko pada kesunyian yang mencekam.
Hatinya hancur. Ia marah pada Bapaknya yang merahasiakan
semuanya. Ia marah pada Bude Tiyem yang nekat berkorban. Tapi di atas
segalanya, ia marah pada dirinya sendiri yang tak bisa berbuat apa-apa selain
bertahan hidup di atas tumpukan mayat orang-orang tercintanya.
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Takdir sudah digariskan dan
diselesaikan dengan darah.
Joko menghapus air matanya kasar. Ia bangkit, menatap jasad
Bude Tiyem untuk terakhir kalinya. Ia menutup mata jenazah itu dengan lembut,
lalu mengangkat tubuh kaku itu dengan sisa tenaga yang ia punya.
***
Sore harinya, dua gundukan tanah merah baru terlihat
berdampingan di pemakaman desa. Bunga kamboja yang gugur menaburi pusara
keduanya.
Joko berdiri diam di sana, menatap nisan kayu sederhana
bertuliskan nama Bapak dan Budenya. Langit senja berwarna merah darah, seolah
alam ikut berduka melepas kepergian dua nyawa yang menjadi perisai bagi satu
nyawa pemuda.
“Terima kasih, Pak. Terima kasih, Bude. Joko pamit,” bisik
Joko lirih.
Ia berbalik, melangkah menjauh tanpa menoleh lagi.
Di bahunya, terslempang tas berisi pakaian seadanya. Joko
memutuskan untuk pergi dari tanah kelahirannya, membawa luka yang tak akan
pernah sembuh, namun juga membawa nyawa yang telah ditebus dengan mahal. Ia
bersumpah tidak akan pernah kembali lagi ke Desa Rejowangi.
Angin sore bertiup pelan, menggoyangkan daun-daun pepohonan,
seolah melambaikan tangan perpisahan pada satu-satunya pewaris keluarga yang
tersisa.
TAMAT
TAMAT